Reinkarnasi berasal dari bahasa Latin yaitu Reincar dan Incarnate yang berarti masuk kembali ke dalam daging. Reinkarnasi merupakan istilah keyakinan jiwa seseorang tidak mati dengan tubuh, tanpa jiwa, atau bagian darinya, dapat masuk ke tubuh yang baru, baik pada manusia atau hewan. Reinkarnasi adalah istilah yang timbul dari gagasan bahwa orang akan dilahirkan dalam tubuh lain setelah mereka mati. Yang dilahirkan dari reinkarnasi bukanlah wujud fisik sebagaimana keberadaan kita saat ini. Yang lahir kembali itu adalah jiwa orang tersebut yang kemudian mengambil wujud tertentu sesuai dengan hasil pebuatannya terdahulu.
Dalam ajaran Buddha, terlahir kembali merupakan bukti dari kehidupan yang berulang-ulang dari setiap makhluk yang disebut dengan istilah punabhava (pali) atau punarbhava (sansekerta). Setiap makhluk yang masih diliputi tanha (keinginan tanpa akhir) akan selalu terlahir kembali di salah satu dari 31 alam kehidupan.
Dari tiga macam tanha, yang paling berpengaruh dalam kelahiran kembali adalah bhava tanha (keinginan untuk terlahir) meskipun kama tanha (keinginan pemuasan nafsu indera) dan vibhava tanha (keinginan untuk memusnahkan diri). Darimana keinginan-keinginan itu muncul? Dari pikiran keinginan itu muncul oleh ucapan dan perbuatan keinginan itu dicetuskan.
Rangkaian ini disebut sabagai karma yang akan menjadikan sebab dari yang diperoleh selanjutnya.
Semua makhluk hidup yang ada di alam semesta ini akan terus menerus mengalami tumimbal lahir selama makhluk tersebut belum mencapai tingkat kesucian Arahat. Alam kelahiran ditentukan oleh karma makhluk tersebut; sederhananya, bila ia baik akan terlahir di alam bahagia, bila ia jahat ia akan terlahir di alam yang menderita. Kelahiran kembali juga dipengaruhi oleh karma pada detik kematiannya, bila pada saat ia meninggal dia berpikiran baik maka ia akan lahir di alam yang berbahagia, namun sebaliknya ia akan terlahir di alam yang menderitakan, sehingga segala sesuatu tergantung dari karma masing-masing.
Punabbhava pada ajaran Budha tidaklah merujuk pada konsep reinkarnasi yang mengakui adanya sifat kekekalan roh atau entitas jiwa abadi yang mengalami perpindahan ke dalam bentuk tubuh ataupun fisik yang berbeda. Dalam reinkarnasi roh atau atma adalah kekal dan selalu berpindah-pindah dari satu kelahiran ke kelahiran berikutnya. Dalam punarbhava tidak ada roh atau atma yang kekal yang berpindah-pindah pada setiap kelahiran, tetapi kelahiran kembali hanya merupakan proses kesadaran yang berpindah dan berubah di setiap kelahiran baru. Kesadaran makhluk di kehidupan baru berbeda dengan kesadaran pada makhluk di kehidupan lalu.
Ajaran buddha memandang sukma, roh, jiwa adalah tidak kekal seperti dikatakan dalam hukum tilakhana yaitu anatta, malainkan hanya merupakan proses yang selalu bergerak.
Kelahiran kembali juga bukan merupakan perpindahan kehidupan di satu alam ataupun perpindahan kehidupan dari satau alam ke alam yang lain. Kelahiran kembali merupakan kelangsungan proses kesadaran yang bergerak terus karena adanya kekuatan karma.
Tumimbal-lahir (patisandhi/punabbhava) bukan berarti pemindahan atau penjelmaan. Dalam agama Buddha tidak dikenal pemindahan atau penjelmaan dari nama (bathin/jiwa) setelah seseorang meninggal dunia. Tetapi dikenal dengan istilah "penerusan" (patisandhi) dari nama, disebut Patisandhi-vinnana. Ketika seseorang akan meninggal dunia, kesadaran-ajal (cuti-citta) mendekati kepadaman dan didorong oleh kekuatan-kekuatan kamma. Kemudian, kesadaran-ajal (cuticitta) padam dan langsung menimbulkan kesadaran penerusan (patisandhi-vinnana) untuk timbul pada salah satu dari 31 Alam Kehidupan (Bhumi 31) sesuai dengan karmanya.
Hal ini secara umum disebut pula suatu permulaan dari bentuk kehidupan baru.
Ada 4 cara tumimbal-lahirnya makhluk-makhluk dalam ajaran Buddha, yaitu :
1. Jajabuja-Yoni : Makhluk yang lahir dari kandungan, seperti manusia, kuda, kerbau dan lain-lain
2. Andaja-Yoni : Makhluk yang lahir dari telur, seperti Burung, ayam, bebek dan lain-lain.
3. Sansedaja-Yoni : Makhluk yang lahir dari kelembaban, seperti nyamuk, ikan dan lain-lain.
4. Opapatika-Yoni : Makhluk yang lahir secara spontan, langsung membesar, seperti para dewa, brahma, makhluk neraka, setan dan lain-lain
From : http://hinstinct.blogspot.com/
Rabu, 19 Maret 2014
MAKNA SOSIAL KEAGAMAAN PEMBACAAN PARITTA DALAM AGAMA BUDDHA
oleh Ven. Dr. Pategama Gnanarama Thera,
Lanka Daily News, Jan 12, 2005
Lanka Daily News, Jan 12, 2005
Colombo , Sri Lanka — Agama Buddha ditinjau dari pandangan fungsionalis sosiologis memberikan peranan dalam membawakan kebersamaan sosial di masyarakat. Praktek pembacaan paritta dalam Agama Buddha dengan jelas merupakan alat yang dipakai untuk memberikan dukungan psikologis pada para pengikutnya.
Salah satu pembuat teori fungsionalis terdahulu, Emile Durkheim, menunjukkan fungsi agama dalam mempertahankan kekompakan sosial di sistem sosial apapun. Maka sikap Agama Buddha terhadap pembacaan paritta dapat dianalisa dari sudut yang berhubungan dengan sosiologis, guna melihat seberapa jauh kecenderungan Agama Buddha membawa kebersamaan dan kesatuan di masyarakat.
Pembacaan paritta yang dilakukan sehubungan dengan peristiwa-peristiwa penting di kehidupan sehari-hari memungkinkan para umat Buddha memelihara kebersamaan sosial dan identitas Buddhis bahkan dalam masyarakat modern yang berubah pesat. Agama Buddha menyediakan dukungan psikologis dalam ketidakpastian, kesedihan dan penderitaan para pengikutnya.
Dukungan yang telah diperluas secara moral dan emosi tersebut dinamakan dukungan psikologis dalam istilah sosiologis. Dukungan tersebut dapat dilihat dalam pembacaan paritta yang dilakukan tidak hanya untuk peristiwa kelahiran, pernikahan dan kematian, tetapi juga untuk penderitaan dalam hidup dan juga untuk setiap kejadian yang menguntungkan. Pembacaan paritta begitu kuat telah menyatu ke dalam gaya hidup umat Buddha sehingga menjadi salah satu praktek Agama Buddha yang paling populer di antara para umat Buddha di seluruh dunia.
Dalam rumah tangga Buddhis, pembacaan paritta dilakukan di setiap peristiwa penting rumah tangga guna menghilangkan pengaruh-pengaruh jahat dan memberikan berkah pada orang atau pihak yang bersangkutan. Pembacaan paritta dilakukan di peristiwa kelahiran anak, pengharapan keselamatan proses kelahiran dan selanjutnya di setiap peristiwa pribadi dan sosial yang bermakna bagi umat Buddha.
Dengan cara demikian, kebanyakan peristiwa upacara ditandai dengan pembacaan paritta oleh para bhikkhu. Tidak peduli apakah itu peletakan batu pertama bangunan atau memasuki rumah baru atau pernikahan, umat Buddha biasanya memohon berkah dalam bentuk paritta yang dibacakan oleh beberapa bhikkhu.
Semangat tinggi yang ditunjukkan dalam pembacaan paritta tersebut dengan jelas memberikan semacam bentuk dorongan emosi. Upacara peristiwa-peristiwa penting pribadi, sosial dan relijius seringkali dirayakan dengan kerjasama dan partisipasi dari para anggota keluarga, kawan-kawan dan simpatisan.
Lagi pula, penting untuk dicatat, disamping melakukan konsultasi pengobatan, paritta dibaca untuk mereka yang sedang sakit, memohon berkah atas kekuatan kebenaran Buddha, Dhamma dan Sangha demi penyembuhan secara cepat.
Maka cukup logis untuk menyatakan bahwa pembacaan paritta dalam Agama Buddha telah memperkenalkan suatu dimensi relijius bagi umat awam bahwa mereka dapat berpartisipasi secara aktif dalam praktek tersebut dan dengan demikian turut memberikan sumbangan pada pemeliharaan kebersamaan sosial karena dukungan psikologis yang diberikan oleh perbuatan tersebut.
Apakah pembacaan paritta itu?
‘Paritta’ menurut etimologi berarti ‘perlindungan’ (berasal dari pari+tra = untuk melindungi). Dijelaskan dalam arti pemberian perlindungan di setiap keadaan dengan permohonan berkah atas kebenaran Tiga Permata pada umumnya dan terutama atas kebenaran Dhamma.
Dalam pemberian perlindungan, beberapa aspek dari Dhamma ditekankan untuk memberikan berkah bagi mereka yang memerlukan. Ditekankan bahwa pembacaan-pembacaan yang bersifat melindungi ini bukanlah dari karangan (mantra) mistik yang berasal dari campuran kata-kata dan suara atau formula gaib atau jimat atau mantra-mantra pengusir setan.
Paritta adalah khotbah asli Sang Buddha dan yang diabadikan dalam Kitab Suci Tipitaka Pali. Karya yang dikenal sebagai ‘The Great Book of Protection’ (Buku Perlindungan Besar) diduga disusun di Sri Lanka pada masa awal jaman, karya tersebut terdiri dari khotbah-khotbah yang dipilih dari teks-teks yang diakui dan sebagian besar disusun untuk keperluan pembacaan paritta.
Khotbah-khotbah ini telah dideklamasikan sebagai paritta atau bacaan (chant) bahkan di jaman Sang Buddha. Secara perlahan-lahan, saat Buddhisme berkembang menjadi agama dengan pengikut besar, pembacaan paritta menjadi lebih populer di antara mereka karena kemanjurannya memberikan perlindungan dengan menangkis dukkha, bhaya, roga.
Permohonan berkah dengan penyebaran cinta kasih
Pada umumnya, berkah didapatkan seseorang atau orang-orang dengan pertimbangan beberapa aspek Dhamma. Disamping penyebaran cinta kasih ke semua makhluk, perenungan Dhamma, permohonan kekuatan dan sifat-sifat Dhamma juga disertakan dalam bacaan-bacaan (chant) ini. Maka dalam perkembangan pembacaan paritta sebagai tradisi Buddhis khusus, beberapa aspek permohonan berkah turut mempertimbangkan situasi tertentu yang dihadapi para bhikkhu dan umat awam di jaman Sang Buddha.
Mungkin bentuk pembacaan paritta terdahulu berhubungan dengan pengkhotbahan tentang cinta kasih (Metta Sutta). Khotbah tersebut ditemukan di Suttanipata dan Khuddakapatha dan digunakan untuk memancarkan cinta kasih (metta) kepada semua makhluk.
Sang Buddha mengajarkan khotbah tersebut kepada beberapa bhikkhu yang tinggal di hutan, dilakukan sebagai paritta perlindungan dan juga sebagai obyek meditasi. Dalam meditasi mereka, para bhikkhu telah diganggu oleh makhluk-makhluk dewa yang mencoba menakuti para bhikkhu agar mereka meninggalkan hutan tersebut.
Bhikkhu-bhikkhu tersebut telah menjadikan hutan sebagai tempat tinggal mereka selama musim hujan. Menyadari bahwa kehadiran para bhikkhu ini dapat mengganggu makhluk-makhluk dewa yang tinggal di pepohonan hutan itu, mereka sering mencoba menakuti para bhikkhu dengan menyamar sebagai setan-setan.
Para bhikkhu menjadi takut dan konsentrasi mereka terganggu. Mereka kembali ke Savatthi dan melaporkan kejadian tersebut pada Sang Buddha. Sang Buddha mengajarkan mereka Metta Sutta untuk dibacakan dan inti dari sutta tersebut dijadikan obyek meditasi.
Saat kembali ke hutan yang sama, mereka membacakan khotbah tersebut dan pada waktu yang sama mereka mengkonsentrasikan perhatian ke thema khotbah tersebut. Diceritakan bahwa para dewa mendengarkan pembacaan sutta, kejengkelan yang tak beralasan mereka menjadi reda dan sejak saat itu mereka menjaga dan melindungi para bhikkhu selama para bhikkhu menetap di sana .
Khanda Paritta yang ditemukan di Vinaya Cullavagga, Anguttara Nikaya, dan juga di Khandavatta Jataka dari koleksi Jataka mengajarkan para bhikkhu yang menetap di hutan untuk menyebarkan cinta kasih kepada empat jenis ular naga agar tidak digigit mereka. Khotbah tersebut dinamakan Ahinda Sutta di Anguttara Nikaya.
Sutta tersebut diajarkan sehubungan dengan kematian seorang bhikkhu yang menetap di hutan yang disebabkan oleh gigitan seekor ular. Walaupun sampai sekarang tidak diketahui empat jenis ular naga tersebut, mereka juga ditemukan dalam sebuah naskah Sanskerta. Walaupun sutta tersebut berbicara tentang cinta kasih dan kekuatan tujuh Buddha, sutta tersebut diberi nama Khanda Paritta di Cullavagga.
Hal ini membingungkan Lionel Lokuiliyana yang menyusun ‘The Great Book of protection’ dalam versi Bahasa Inggris. Karena sulit mengatakan mengapa khotbah tersebut diberi nama itu, ia menduga bahwa mungkin sutta itu diberi nama menurut ular jahat yang ditemukan di Mahabharata. Tetapi alasan itu tidak tepat karena kumpulan Mahabharata disusun beberapa abad setelah Vinaya Cullavagga dan juga karya-karya Nikaya, nama tersebut tidak ada hubungannya dengan ular naga jahat di Mahabharata.
Sutta tersebut mungkin dinamakan demikian karena sutta itu adalah perlindungan untuk lima nafsu indriya (pancakkhandha) yang dimiliki oleh setiap individu. Tetapi tujuh Buddha dalam permohonan berkah yang dibicarakan sutta tersebut mungkin timbul beberapa puluh tahun setelah kebangkitan Buddhisme.
Sumber : Socio-religious significance of Buddhist chanting
Diterjemahkan oleh : Jenny H – Surabaya
Editor : Bhikkhu Uttamo
Editor : Bhikkhu Uttamo
Cinta,Seks dan Agama Buddha
Dalam masyarakat terdapat bermacam-macam pengertian tentang istilah ‘cinta’ dan ‘seks’. Kadang satu pengertian berbeda atau bahkan bertentangan sama sekali dengan pengertian yang lain. Dalam kesempatan ini, akan diberikan pengertian tentang ‘cinta’ dan ‘seks’ menurut Agama Buddha.
Dalam Agama Buddha, pengertian tentang istilah ‘cinta’ diuraikan secara jelas di Karaniyametta Sutta. Karaniyametta Sutta atau kotbah Sang Buddha tentang cinta kasih ini pertama kali diajarkan oleh Sang Buddha kepada para bhikkhu yang sering diganggu mahluk halus. Dikisahkan dalam Dhamma pada suatu masa vassa atau masa tiga bulan musim penghujan saat para bhikkhu berada di satu tempat yang sama, terdapat 500 bhikkhu yang tinggal di sebuah hutan. Hutan tersebut dihuni oleh banyak mahluk halus. Para bhikkhu yang tidak tahan dengan keberadaan mahluk halus itu kemudian menyampaikan hal ini kepada Sang Buddha. Beliau kemudian mengajarkan kepada para bhikkhu untuk mengembangkan cinta kasih dengan mengucapkan Karaniyametta Sutta . Setelah para bhikkhu melaksanakan Ajaran Sang Buddha, maka mahluk halus di hutan itu akhirnya tenang dan bahkan membantu mengkondisikan para bhikkhu mencapai kesucian pada akhir tiga bulan musim penghujan tersebut.
Adapun inti kotbah Sang Buddha tentang cinta kasih atau Karaniyametta Sutta tersebut adalah upaya mengembangkan pikiran cinta kasih dengan sering mengulang dalam batin kalimat : ‘Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia’. Obyek pengembangan pikiran cinta kasih ini ditujukan kepada semua mahluk yang tampak maupun mahluk tak tampak. Pemancaran pikiran cinta kasih dilakukan sepanjang waktu yaitu ketika seseorang sedang duduk, berjalan, berdiri, berbaring, selagi tiada lelap atau tertidur. Berangkat dari pelaksanaan makna ‘cinta’ yang demikian, kiranya telah jelas bahwa pengertian ‘cinta’ dalam Agama Buddha adalah memberi. Memberikan kebahagiaan untuk mereka yang dicintai.
Pengertian cinta adalah memberikan kebahagiaan ini kiranya selaras dengan pengertian pokok Ajaran Sang Buddha tentang Hukum Kamma atau Hukum Sebab dan Akibat. Secara sederhana, Hukum Kamma sering dijelaskan sebagai ‘menanam padi akan tumbuh padi’, mereka yang menanam kebajikan akan tumbuh kebahagiaan. Jadi, dalam pengertian Hukum Kamma, umat Buddha diajarkan untuk bersikap proaktif bukan pasif. Sebagai contoh, ketika seseorang menderita sakit, maka ia bukan hanya menerima kondisi tersebut sebagai buah kamma buruk yang harus dijalaninya, melainkan ia harus berupaya melakukan banyak kebajikan dan usaha agar kamma baik berbuah sesuai dengan harapan yaitu kesembuhan.
Demikian pula dengan cinta. Cinta dalam pengertian Buddhis juga bukan bersifat pasif melainkan proaktif yaitu memberikan kebahagiaan kepada mereka yang dicinta. Jadi, apabila seseorang mulai ‘menanam’ cinta, maka ia pun akan ‘memanen’ cinta dari orang yang dicintai atau orang yang telah ia bahagiakan. Selanjutnya, ketika seseorang mempertanyakan sebab timbulnya niat untuk membahagiakan orang yang dicintainya, mungkin akan diperoleh jawaban bahwa orang tersebut juga telah memberikan perhatian kepadanya. Dengan demikian, berlakulah Hukum Sebab dan Akibat seperti yang telah diterangkan di atas.
Pengertian cinta sebagai memberi kebahagiaan memang lebih mudah diucapkan namun tidak mudah untuk dilaksanakan. Kebanyakan orang sulit membedakan antara cinta dan kebutuhan. Orang sering menyebutkan istilah ‘cinta’ yang sebenarnya menunjukkan bahwa ia ‘membutuhkan’ orang tersebut. Namun, kiranya perbedaan makna cinta ini bisa diperbaiki dengan latihan sedikit demi sedikit melalui pengucapkan kalimat ‘semoga semua mahluk berbahagia’. Seringnya mengucapkan kalimat tersebut akan menambah jumlah orang yang memaknai cinta adalah memberi seperti yang disampaikan dalamKaraniyametta Sutta .
Ketika cinta telah bermakna memberikan kebahagiaan, maka kualitas cinta menjadi sangat luhur. Seseorang dalam mencintai bukan lagi ingin memiliki atau mengikat orang yang dicintainya. Semakin seseorang mencintai, semakin besar pula kebebasan yang ia berikan agar orang yang dicintainya berbahagia. Cinta yang memberi akan menjadi cinta yang bebas dari kecemburuan maupun pertentangan. Cinta yang memberi adalah cinta yang penuh kebahagiaan untuk kedua belah fihak. Cinta yang memberi dapat disebut sebagai cinta yang sejati. Cinta yang bebas dari kepura-puraan dan kesedihan. Cinta yang memberi dalam Karaniyametta Sutta disamakan dengan cinta seorang ibu kepada anaknya yang tunggal. Penuh pengorbanan namun tanpa tuntutan.
Selanjutnya, setelah mengerti makna ‘cinta’ dalam Agama Buddha adalah memberi, maka berikutnya akan dibahas tentang ‘seks’ atau lebih sempit lagi bermakna ‘hubungan seks’. Dalam pengertian Buddhis, hubungan seks adalah salah satu ungkapan untuk membahagiakan pasangannya. Ada banyak cara untuk mengungkapkan cinta, seperti halnya sentuhan lembut, pandangan penuh perhatian, ucapan yang menyejukan serta berbagai hal lain. Hubungan seks hanya boleh dilakukan antara pasangan yang telah terikat menjadi suami istri.
Dalam Dhamma, hubungan seksual dapat terjadi apabila pasangan mempergunakan salah satu atau lebih dari tiga organ seksual yaitu mulut, alat vital dan anus. Penggunaan organ seksual ini hendaknya dilakukan dengan tujuan untuk membahagiakan orang yang dicintainya. Apabila pasangan dalam hubungan seksual bukan suami atau istri sendiri, maka besar kemungkinan telah terjadi pelanggaran sila ketiga dari Pancasila Buddhis yaitu perjinahan. Seperti telah diketahui bersama bahwa isi Pancasila Buddhis adalah upaya untuk menghindari pembunuhan, pencurian, perjinahan, bohong dan mabuk-mabukan.
Adapun terjadinya pelanggaran sila ketiga atau perjinahan apabila pasangan dalam melakukan hubungan seksual termasuk obyek pelanggaran. Obyek pelanggaran yang dimaksud adalah saudara kandung, anak di bawah umur, orang-orang di bawah perwalian, suami atau istri orang lain dan mereka yang melaksanakan latihan kemoralan seperti samanera, bhikkhu, atau bhiksuni. Hubungan seksual dengan salah satu atau lebih dari kelima kelompok obyek pelanggaran yang diuraikan di atas dapat disebut sebagai perjinahan. Sebagai akibat dari kamma buruk melakukan pelanggaran sila ketiga Pancasila Buddhis yaitu perjinahan disebutkan dalam Anguttara Nikaya VII :
Perjinahan, melakukan sendiri, mengajurkan, mengijinkan, ini membawa orang ke neraka, ke alam binatang, ke alam setan, sekurang-kurangnya menjadikan orang itu akan dimusuhi oleh lingkungannya.
Dengan memahami bahwa cinta adalah memberikan kebahagiaan, dan seks adalah salah satu cara mengungkapkan cinta, maka kiranya para umat Buddha dapat mulai menjalani kehidupan sesuai dengan Dhamma. Dengan melaksanakan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari akan terwujudlah kebahagiaan dalam rumah tangga maupun kehidupan bermasyarakat yang bermoral.
Semoga pembahasan pengertian ‘cinta’ dan ‘seks’ ini akan menambah wawasan serta menjadi pegangan hidup. Semoga semua selalu berbahagia.
Semoga semua makhluk baik tampak maupun yang tidak tampak memperoleh kebaikan serta kebahagiaan sesuai dengan kondisi kammanya masing-masing.
Sabbe satta bhavantu sukhitattha.
Ajaran Sang Buddha
1. KITAB SUCI AGAMA BUDDHA
Kitab Suci Agama Buddha yang tertulis dalam Bahasa Pali adalah
TIPITAKA, yang terdiri dari :
Ehipassiko berarti “datang dan alamilah sendiri”. Umat Buddha tidak diminta untuk percaya saja, tetapi justru untuk mengalami sendiri segala sesuatu. Ini menunjukkan khas Buddhis, berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Agama-agama lain.
4. EMPAT KESUNYATAAN MULIA
Tingkat-tingkat kesucian
5.HUKUM TILAKKHANA (TIGA CORAK UMUM)
Hukum Tilakkhana ini termasuk Hukum Kesunyataan ; berarti bahwa Hukum ini berlaku di mana-mana dan pada setiap waktu. Jadi tidak terikat oleh waktu dan tempat.
Attaväda
Kesimpulan : Meskipun roti itu terdiri dari bahan-bahan yang tersebut di atas, namun setelah melalui proses pembuatan dan pembakaran di oven telah menjadi sesuatu yang baru sama sekali dan tidak mungkin lagi untuk mengembalikannya dalam bentuknya yang semula.
LIMA KHANDHA
Dalam Agama Buddha diajarkan bahwa seorang manusia terdiri dari lima kelompok kehidupan/kegemaran (Khandha) yang saling bekerja-sama dengan erat sekali. Kelima kelompok kehidupan/kegemaran tersebut adalah :
Kesadaran
Pencerapan
Pikiran
Perasaan.
Menurut Ajaran Sang Buddha, di dalam diri seorang manusia hanya terdapat lima khandha ini dan tidak dapat ditemukan suatu atma atau roh yang kekal dan abadi. Dengan cara ini, maka anattä diterangkan melalui analisa.
6.HUKUM PATICCA-SAMUPPADA
Paham anattä dapat pula diterangkan melalui cara sinthesa, yaitu melalui Hukum Paticca-Samuppada (Hukum Sebab-musabab Yang Saling Bergantungan). Prinsip dari Hukum ini diberikan dalam empat formula pendek, yaitu :
7. HUKUM KAMMA
Kamma adalah kata bahasa Pali yang berarti “perbuatan”, yang dalam arti umum meliputi semua jenis kehendak dan maksud perbuatan, yang baik maupun yang buruk, lahir atau bathin dengan pikiran kata-kata atau tindakan. Makna yang luas dan sebenarnya dari Kamma, ialah semua kehendak atau keinginan dengan tidak membeda-bedakan apakah kehendak atau keinginan itu baik (bermoral) atau buruk (tidak bermoral), mengenai hal ini Sang Buddha pernah bersabda :
“O, bhikkhu, kehendak untuk berbuat (Pali : Cetana) itulah yang Kami namakan Kamma. Sesudah berkehendak orang lantas berbuat dengan badan, perkataan atau pikiran.”
Kamma bukanlah satu ajaran yang membuat manusia menjadi orang yang lekas berputus-asa, juga bukan ajaran tentang adanya satu nasib yang sudah ditakdirkan. Memang segala sesuatu yang lampau mempengaruhi keadaan sekarang atau pada saat ini, akan tetapi tidak menentukan seluruhnya, oleh karena kamma itu meliputi apa yang telah lampau dan keadaan pada saat ini, dan apa yang telah lampau bersama-sama dengan apa yang terjadi pada saat sekarang mempengaruhi pula hal-hal yang akan datang. Apa yang telah lampau sebenarnya merupakan dasar di mana hidup yang sekarang ini berlangsung dari satu saat ke lain saat dan apa yang akan datang masih akan dijalankan. Oleh karena itu, saat sekarang inilah yang nyata dan ada “di tangan kita” sendiri untuk digunakan dengan sebaik-baiknya. Oleh sebab itu kita harus hati-hati sekali dengan perbuatan kita, supaya akibatnya senantiasa akan bersifat baik.
Kita hendaknya selalu berbuat baik, yang bermaksud menolong mahluk-mahluk lain, membuat mahluk-mahluk lain bahagia, sehingga perbuatan ini akan membawa satu kamma-vipaka (akibat) yang baik dan memberi kekuatan kepada kita untuk melakukan kamma yang lebih baik lagi. Satu contoh yang klasik adalah sbb. :
Lemparkanlah batu ke dalam sebuah kolam yang tenang. Pertama-tama akan terdengar percikan air dan kemudian akan terlihat lingkaran-lingkaran gelombang. Perhatikanlah bagaimana lingkaran ini makin lama makin melebar, sehingga menjadi begitu lebar dan halus yang tidak dapat lagi dilihat oleh mata kita. Ini bukan berarti bahwa gerak tadi telah selesai, sebab bilamana gerak gelombang yang halus itu mencapai tepi kolam, ia akan dipantulkan kembali sampai mencapai tempat bekas di mana batu tadi dijatuhkan.
Begitulah semua akibat dari perbuatan kita akan kembali kepada kita seperti halnya dengan gelombang di kolam yang kembali ke tempat dimana batu itu dijatuhkan.
Sang Buddha pernah bersabda (Samyutta Nikaya I, hal. 227) sbb :
“Sesuai dengan benih yang telah ditaburkan begitulah buah yang akan dipetiknya, pembuat kebaikan akan mendapat kebaikan, pembuat kejahatan akan memetik kejahatan pula. Tertaburlah olehmu biji-biji benih dan engkau pulalah yang akan merasakan buah-buah dari padanya”.
Segala sesuatu yang datang pada kita, yang menimpa diri kita, sesungguhnya benar adanya. Bilamana kita mengalami sesuatu yang membahagiakan, yakinlah bahwa kamma yang telah kita perbuat adalah benar. Sebaliknya bila ada sesuatu yang menimpa kita dan membuat kita tidak senang, kamma-vipaka itu menunjukkan bahwa kita telah berbuat suatu kesalahan. janganlah sekali-kali dilupakan hendaknya bahwa kamma-vipaka itu senantiasa benar. Ia tidak mencintai maupun membenci, pun tidak marah dan juga tidak memihak. Ia adalah hukum alam, yang dipercaya atau tidak dipercaya akan berlangsung terus.
Terdapat dua belas jenis bentuk-bentuk kamma yang tidak diperinci di sini. Bentuk kamma yang lebih berat (bermutu) dapat menekan — bahkan menggugurkan — bentuk-bentuk kamma yang lain. Ada orang yang menderita hebat karena perbuatan kecil, tetapi ada juga yang hampir tidak merasakan akibat apapun juga untuk perbuatan yang sama. Mengapa? Orang yang telah menimbun banyak kamma baik, tidak akan banyak menderita karena perbuatan itu, sebaliknya orang yang tidak banyak melakukan kamma-kamma baik akan menderita hebat.
Singkatnya : Kamma Vipaka dapat diperlunak, dibelokkan, ditekan, bahkan digugurkan.
Kamma dapat dibagi dalam tiga golongan :
Lima perbuatan durhaka di bawah ini mempunyai akibat yang sangat berat ialah kelahiran di alam neraka :
8.HIRI DAN OTAPPA
Dua ciri khas yang dianggap dua sifat yang membantu melindungi dunia dari kekacauan :
Dalam penghidupan seorang manusia tidak dapat terlepas dari 8 (delapan) keadaan, yaitu :
Kitab Suci Agama Buddha yang tertulis dalam Bahasa Pali adalah
TIPITAKA, yang terdiri dari :
- Vinaya Pitaka yang berisikan tata-tertib bagi para bhikkhu/bhikkhuni.
- Sutta Pitaka yang berisikan khotbah-khotbah Sang Buddha
- Abidhamma Pitaka yang berisikan Ajaran tentang metafisika dan ilmu kejiwaan.
- Avatamsaka Sutra.
- Lankavatara Sutra.
- Saddharma Pundarika Sutra.
- Vajracchendika Prajna Paramita Sutra (Kim Kong Keng), dan lain-lain.
- Paramatha-sacca : Kebenaran mutlak (absolute truth), dan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
- Harus benar.
- Tidak terikat oleh waktu ; waktu dulu, sekarang dan waktu yang akan datang sama saja.
- Tidak terikat oleh tempat ; di sini, di Amerika ataupun di bulan sama saja.
- Sammuti-sacca : Kebenaran relatif ; berarti bahwa sesuatu itu benar, tetapimasih terikat oleh waktu dan tempat.
Ehipassiko berarti “datang dan alamilah sendiri”. Umat Buddha tidak diminta untuk percaya saja, tetapi justru untuk mengalami sendiri segala sesuatu. Ini menunjukkan khas Buddhis, berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Agama-agama lain.
4. EMPAT KESUNYATAAN MULIA
| I. | Kesunyataan Mulia tentang Dukkha | |||||||
| Hidup dalam bentuk apa pun adalah dukkha (penderitaan) : | ||||||||
| a. | dilahirkan, usia tua, sakit, mati adalah penderitaan. | |||||||
| b. | berhubungan dengan orang yang tidak disukai adalah penderitaan. | |||||||
| c. | ditinggalkan oleh orang yang dicintai adalah penderitaan. | |||||||
| d. | tidak memperoleh yang dicita-citakan adalah penderitaan. | |||||||
| e. | masih memiliki lima khanda adalah penderitaan. | |||||||
| Dukkha dapat juga dibagi sbb. : | ||||||||
| a. | dukkha-dukkha | - | ialah penderitaan yang nyata, yang benar dirasakan sebagai penderitaan tubuh dan bathin, misalnya sakit kepala, sakit gigi, susah hati dll. | |||||
| b. | viparinäma-dukkha | - | merupakan fakta bahwa semua perasaan senang dan bahagia –berdasarkan sifat ketidak-kekalan– di dalamnya mengandung benih-benih kekecewaan, kekesalan dll. | |||||
| c. | sankhärä-dukkha | - | lima khanda adalah penderitaan ; selama masih ada lima khanda tak mungkin terbebas dari sakit fisik. | |||||
| II. | Kesunyataan Mulia tentang asal mula Dukkha | |||
| Sumber dari penderitaan adalah tanhä, yaitu nafsu keinginan yang tidak ada habis-habisnya. Semakin diumbar semakin keras ia mencengkeram. Orang yang pasrah kepada tanhä sama saja dengan orang minum air asin untuk menghilangkan rasa hausnya. Rasa haus itu bukannya hilang, bahkan menjadi bertambah, karena air asin itu yang mengandung garam. Demikianlah, semakin orang pasrah kepada tanhä semakin keras tanhä itu mencengkeramnya.
Dikenal tiga macam tanhä, yaitu :
| ||||
| 1. | Kämatanhä : kehausan akan kesenangan indriya, ialah kehausan akan :
a. bentuk-bentuk (indah)
b. suara-suara (merdu)
c. wangi-wangian
d. rasa-rasa (nikmat)
e. sentuhan-sentuhan (lembut)
f. bentuk-bentuk pikiran
| |||
| 2. | Bhavatanhä : kehausan untuk lahir kembali sebagai manusia berdasarkan kepercayaan tentang adanya “atma (roh) yang kekal dan terpisah” (attavada). | |||
| 3. | Vibhavatanhä : kehausan untuk memusnahkan diri, berdasarkan kepercayaan, bahwa setelah mati tamatlah riwayat tiap-tiap manusia (ucchedaväda). | |||
| III. | Kesunyataan Mulia tentang lenyapnya Dukkha | |||||||
| Kalau tanhä dapat disingkirkan, maka kita akan berada dalam keadaan yang bahagia sekali, karena terbebas dari semua penderitaan (bathin). Keadaan ini dinamakan Nibbana. | ||||||||
| a. | Sa-upadisesa-Nibbana | = | Nibbana masih bersisa. Dengan ‘sisa’ dimaksud bahwa lima khanda itu masih ada. | |||||
| b. | An-upadisesa-Nibbana | = | Setelah meninggal dunia, seorang Arahat akan mencapai anupadisesa-nibbana, ialah Nibbana tanpa sisa atau juga dinamakan Pari-Nibbana. Sang Arahat telah beralih ke dalam keadaan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.
Misalnya, kalau api padam, kejurusan mana api itu pergi? jawaban yang tepat : ‘tidak tahu’ Sebab api itu padam karena kehabisan bahan bakar.
| |||||
| IV. | Kesunyataan Mulia tentang Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha | |||||||
| Delapan Jalan Utama (Jalan Utama Beruas Delapan) yang akan membawa kita ke Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha, yaitu : | ||||||||
| Pañña | ||||||||
| 1. | Pengertian Benar (sammä-ditthi) | |||||||
| 2. | Pikiran Benar (sammä-sankappa) | |||||||
| Sila | ||||||||
| 3. | Ucapan Benar (sammä-väcä) | |||||||
| 4. | Perbuatan Benar (sammä-kammanta) | |||||||
| 5. | Pencaharian Benar (sammä-ajiva) | |||||||
| Samädhi | ||||||||
| 6. | Daya-upaya Benar (sammä-väyäma) | |||||||
| 7. | Perhatian Benar (sammä-sati) | |||||||
| 8. | Konsentrasi Benar (sammä-samädhi) | |||||||
| Delapan Jalan Utama ini dapat lebih lanjut diperinci sbb. : | ||||||
| 1. | Pengertian Benar (sammä-ditthi)
menembus arti dari :
| |||||
| a. | Empat Kesunyataan Mulia | |||||
| b. | Hukum Tilakkhana (Tiga Corak Umum) | |||||
| c. | Hukum Paticca-Samuppäda | |||||
| d. | Hukum Kamma | |||||
| 2. | Pikiran Benar (sammä-sankappa) | |||||
| a. | Pikiran yang bebas dari nafsu-nafsu keduniawian
(nekkhamma-sankappa).
| |||||
| b. | Pikiran yang bebas dari kebencian
(avyäpäda-sankappa)
| |||||
| c. | Pikiran yang bebas dari kekejaman
(avihimsä-sankappa)
| |||||
| 3. | Ucapan Benar (sammä-väcä)
Dapat dinamakan Ucapan Benar, jika dapat memenuhi empat syarat di bawah ini :
| |||||
| a. | Ucapan itu benar | |||||
| b. | Ucapan itu beralasan | |||||
| c. | Ucapan itu berfaedah | |||||
| d. | Ucapan itu tepat pada waktunya | |||||
| 4. | Perbuatan Benar (sammä-kammanta) | |||||
| a. | Menghindari pembunuhan | |||||
| b. | Menghindari pencurian | |||||
| c. | Menghindari perbuatan a-susila | |||||
| 5. | Pencaharian Benar (sammä-ajiva)
Lima pencaharian salah harus dihindari (M. 117), yaitu :
| |||||
| a. | Penipuan | |||||
| b. | Ketidak-setiaan | |||||
| c. | Penujuman | |||||
| d. | Kecurangan | |||||
| e. | Memungut bunga yang tinggi (praktek lintah darat) | |||||
| Di samping itu seorang siswa harus pula menghindari lima macam perdagangan , yaitu : | ||||||
| a. | Berdagang alat senjata | |||||
| b. | Berdagang mahluk hidup | |||||
| c. | Berdagang daging (atau segala sesuatu yang berasal dari penganiayaan mahluk-mahluk hidup) | |||||
| d. | Berdagang minum-minuman yang memabukkan atau yang dapat menimbulkan ketagihan | |||||
| e. | Berdagang racun. | |||||
| 6. | Daya-upaya Benar (sammä-väyäma) | |||||
| a. | Dengan sekuat tenaga mencegah munculnya unsur-unsur jahat dan tidak baik di dalam bathin. | |||||
| b. | Dengan sekuat tenaga berusaha untuk memusnahkan unsur-unsur jahat dan tidak baik, yang sudah ada di dalam bathin. | |||||
| c. | Dengan sekuat tenaga berusaha untuk membangkitkan unsur-unsur baik dan sehat di dalam bathin. | |||||
| d. | Berusaha keras untuk mempernyata, mengembangkan dan memperkuat unsur-unsur baik dan sehat yang sudah ada di dalam bathin. | |||||
| 7. | Perhatian Benar (sammä-sati)
Sammä-sati ini terdiri dari latihan-latihan Vipassanä-Bhävanä (meditasi untuk memperoleh pandangan terang tentang hidup), yaitu :
| |||||
| a. | Käyä-nupassanä = Perenungan terhadap tubuh | |||||
| b. | Vedanä-nupassanä = Perenungan terhadap perasaan. | |||||
| c. | Cittä-nupassanä = Perenungan terhadap kesadaran. | |||||
| d. | Dhammä-nupassanä = Perenungan terhadap bentuk-bentuk pikiran. | |||||
| 8. | Konsentrasi Benar (sammä-samädhi)
Latihan meditasi untuk mencapai Jhäna-Jhäna.
| |||||
| Siswa yang telah berhasil melaksanakan Delapan Jalan Utama memperoleh : | |||
| 1. | Sila-visuddhi | - | Kesucian Sila sebagai hasil dari pelaksanaan Sila dan terkikis habisnya Kilesa. |
| 2. | Citta-visuddhi | - | Kesucian Bathin sebagai hasil dari pelaksanaan Samadhi dan terkikis habisnya Nivarana. |
| 3. | Ditthi-visuddhi | - | Kesucian Pandangan sebagai hasil dari pelaksanaan Pañña dan terkikis habisnya Anusaya. |
| Untuk lebih jelasnya, hal tersebut di atas akan diterangkan lebih lanjut seperti di bawah ini : | |||
| Asava | Delapan Jalan Utama | ||||
| 1. | Kilesa | 3. Ucapan Benar
4. Perbuatan Benar
5. Pencaharian Benar
| Sila | ||
| 2. | Nivarana | 6. Daya-upaya Benar
7. Perhatian Benar
8. Konsentrasi Benar
| Samadhi | ||
| 3. | Anusaya | 1. Pengertian Benar
2. Pikiran Benar
| Pañña | ||
| Asava = | Kekotoran bathin, dapat dibagi dalam 3 (tiga) golongan besar, yaitu: | |||
| 1. | Kilesa | = | Kekotoran bathin yang kasar dan dapat jelas dilihat atau didengar. | |
| 2. | Nivarana | = | Kekotoran bathin yang agak halus, yang agak sukar diketahui. | |
| 3. | Anusaya | = | Kekotoran bathin yang halus sekali dan sangat sukar untuk diketahui. | |
| BHAVANA | |||
| Agama Buddha mengenal 2 (dua) macam meditasi (Bhavana) : | |||
| I. | Samatha-bhavana | = | Meditasi untuk mendapatkan ketenangan bathin melalui Jhäna-Jhäna. |
| Jhäna pertama : | a. | Vitakka | = | Usaha dalam tingkat permulaan untuk memegang obyek. | |
| b. | Vicära | = | Pikiran yang berhasil memegang obyek dengan kuat. | ||
| c. | Piti | = | Kegiuran | ||
| d. | Sukha | = | Kebahagiaan. | ||
| e. | Ekaggata | = | Pemusatan pikiran yang kuat. | ||
| Jhäna kedua | : | Vicära, Piti, Sukha, Ekaggata. | |||
| Jhäna ketiga | : | Piti, Sukha, Ekaggata. | |||
| Jhäna keempat | : | Sukha, Ekaggata. | |||
| Jhäna kelima | : | Ekaggata + keseimbangan bathin. | |||
| Meditasi Samatha-bhävanä yang sangat dipujikan ialah Brahma-Vihära-bhävanä yang terdiri dari : | |||||
| 1. | Mettä-bhävanä | = | Usaha dalam tingkat permulaan untuk memegang obyek. | ||
| 2. | Karunä-bhävanä | = | Meditasi welas-asih terhadap semua mahluk yang sedang menderita. | ||
| 3. | Muditä-bhävanä | = | Meditasi yang mengandung simpati terhadap kebahagiaan orang lain. | ||
| 4. | Upekkhä-bhävanä | = | Meditasi keseimbangan bathin. | ||
| Brahmä-Vihära-bhävanä dapat juga dipakai untuk melemahkan kecenderungan-kecenderungan untuk melakukan perbuatan yang tidak baik. | |||||
| Tiga Akar Perbuatan | |||||
| Tiga hal yang di bawah ini dapat disebut sebagai tiga akar atau sumber untuk melakukan perbuatan, yaitu : | |||||
| 1. | Lobha | = | Kemelekatan yang sangat terhadap sesuatu sehingga menimbulkan keserakahan. | ||
| 2. | Dosa | = | Penolakan yang sangat terhadap sesuatu sehingga menimbulkan kebencian. | ||
| 3. | Moha | = | Kebodohan ; tidak dapat menbeda-bedakan mana yang buruk dan mana yang baik. | ||
| II. | Vipassanä-bhävanä | = | Meditasi untuk memperoleh Pandangan Terang tentang hidup, tentang hakikat sesungguhnya dari benda-benda. |
| Latihan-latihan Vipassanä-bhävanä sudah diterangkan sewaktu membahas Perhatian Benar (sammä-sati).
Tujuan dari latihan-latihan bhävanä ialah untuk menyingkirkan Nivarana (lihat pembahasan Asava) yang dianggap sebagai rintangan untuk memperoleh ketenangan bathin maupun Pandangan Terang tentang hidup dan hakekat sesungguhnya dari benda-benda.
Perincian dari Nivarana adalah sbb. :1. Kämacchanda — nafsu keinginan
2. Vyäpäda — keinginan jahat, kebencian dan amarah.
3. Thina-middha — lamban, malas dan kesu.
4. Uddhacca-kukkucca — gelisah dan cemas.
5. Vicikicchä — keragu-raguan.
Dalam tingkat kesucian, umat Buddha dapat dibagi dalam dua golongan :
| |||
| 1. | Puthujjana | - | Ialah para bhikkhu dan orang-orang berkeluarga yang belum mencapai tingkat kesucian. |
| 2. | Ariya-puggalä | - | Ialah para bhikkhu dan orang-orang berkeluarga yang setidak-tidaknya telah mencapai tingkat kesucian pertama. |
| Tingkat kesucian | Belenggu yang harus dipatahkan ; | Lahir kembali | ||||||||||
| 1. Sotäpanna |
| Maksimum
7 kali
| ||||||||||
| 2. Sakadägämi | Melemahkan belenggu-belenggu nomor 4 dan 5. | 1 kali | ||||||||||
| 3. Anägämi |
| Tidak akan terlahir kembali di alam manusia | ||||||||||
| 4. Arahat |
| Mencapai Nibbana |
| Keterangan | : | Perbedaan antara Avijjä dan Moha. |
| Avijjä | = | Kebodohan/kegelapan bathin, karena tidak dapat menembus arti dari Empat Kesunyataan Mulia, Hukum Tilakkhana, Hukum Paticca-Samuppada, Hukum Kamma. |
| Moha | = | Kebodohan/kegelapan bathin, karena tidak dapat membedakan apa yang baik dan apa yang tidak baik. |
Hukum Tilakkhana ini termasuk Hukum Kesunyataan ; berarti bahwa Hukum ini berlaku di mana-mana dan pada setiap waktu. Jadi tidak terikat oleh waktu dan tempat.
- Sabbe sankhärä aniccäSegala sesuatu dalam alam semesta ini yang terdiri dari paduan unsur-unsur adalah tidak kekal. Umat Buddha melihat segala sesuatu dalam alam semesta ini sebagai suatu proses yang selalu dalam keadaan bergerak, yaitu :
Uppada (timbul)Thiti (berlangsung)Bhanga (berakhir/lenyap) - Sabbe sankhärä dukkhaApa yang tidak kekal sebenarnya tidak memuaskan dan oleh karena itu adalah penderitaan.
- Sabbe Dhammä AnattäSegala sesuatu yang tercipta dan tidak tercipta adalah tanpa inti yang kekal/abadi.Contoh dari sesuatu yang tidak tercipta adalah Nibbana.
- Sabbe sankhärä aniccäSegala sesuatu dalam alam semesta ini yang terdiri dari paduan unsur-unsur adalah tidak kekal. Umat Buddha melihat segala sesuatu dalam alam semesta ini sebagai suatu proses yang selalu dalam keadaan bergerak, yaitu :
- AttavädaPaham bahwa atma (roh) adalah kekal-abadi dan akan berlangsung sepanjang masa (tidak dibenarkan oleh Sang Buddha).
- UcchedavädaPaham bahwa setelah mati atma (roh) itu pun akan turut lenyap (tidak dibenarkan oleh Sang Buddha).
Attaväda
- A + p = A + p
- (A + p) + p1 = A + p + p1
- (A + p + p1) + p2 = A + p + p1 + p2
- (A-p-p1-p2) + … + pn = A + p + p1 + p2 + … + pn
- A + p = Nihil
- A + p = BA = Atma, roh
- B + p1 = Cp = Pengalaman hidup
- C + p2 = DI, II, III = Kehidupan ke I, II, III.
Kesimpulan : Meskipun roti itu terdiri dari bahan-bahan yang tersebut di atas, namun setelah melalui proses pembuatan dan pembakaran di oven telah menjadi sesuatu yang baru sama sekali dan tidak mungkin lagi untuk mengembalikannya dalam bentuknya yang semula.
LIMA KHANDHA
Dalam Agama Buddha diajarkan bahwa seorang manusia terdiri dari lima kelompok kehidupan/kegemaran (Khandha) yang saling bekerja-sama dengan erat sekali. Kelima kelompok kehidupan/kegemaran tersebut adalah :
- Rupa = Bentuk, tubuh, badan jasmani.
- Sañña = Pencerapan.
- Sankhära = Pikiran, bentuk-bentuk mental.
- Vedanä = Perasaan.
- Viññana = Kesadaran.
- RupaKita menangkap suatu rangsangan melalui mata, telinga, hidung, lidah, tubuh yang merupakan bagian dari badan jasmani kita.
- Viññana (citta)Kita lalu akan menyadari bahwa bathin kita telah menangkap suatu rangsangan.
- SaññaRangsangan tersebut mencerap ke dalam bathin kita melalui suatu bagian dari otak kita, mengenal obyek.
- SankhäraRangsangan ini kita akan banding-bandingkan dengan pengalaman kita yang dulu-dulu melalui gambaran-gambaran pikiran yang tersimpan dalam bathin kita.
- VedanäDengan membanding-bandingkan ini lalu timbul suatu perasaan senang (suka) atau tidak senang (tidak suka) terhadap rangsangan yang telah tertangkap melalui panca indera kita.
Kesadaran
Menurut Ajaran Sang Buddha, di dalam diri seorang manusia hanya terdapat lima khandha ini dan tidak dapat ditemukan suatu atma atau roh yang kekal dan abadi. Dengan cara ini, maka anattä diterangkan melalui analisa.
6.HUKUM PATICCA-SAMUPPADA
Paham anattä dapat pula diterangkan melalui cara sinthesa, yaitu melalui Hukum Paticca-Samuppada (Hukum Sebab-musabab Yang Saling Bergantungan). Prinsip dari Hukum ini diberikan dalam empat formula pendek, yaitu :
- Imasming Sati Idang Hoti Dengan adanya ini, maka terjadilah itu.
- Imassuppädä Idang UppajjatiDengan timbulnya ini, maka timbullah itu.
- Imasming Asati Idang Na Hoti Dengan tidak adanya ini, maka tidak adalah itu.
- Imassa Nirodhä Idang Nirujjati Dengan terhentinya ini, maka terhentilah juga itu.
- Avijjä Paccayä SankhäraDengan adanya kebodohan (ketidak-tahuan), maka terjadilah bentuk-bentuk karma.
- Sankhära Paccayä ViññänangDengan adanya bentuk-bentuk karma, maka terjadilah kesadaran.
- Viññäna Paccayä NamarupangDengan adanya kesadaran, maka terjadilah bathin dan badan jasmani.
- Namarupang Paccayä Saläyatanang.Dengan adanya bathin dan badan jasmani, maka terjadilah enam indriya
- Saläyatana Paccayä Phassa.Dengan adanya enam indriya, maka terjadilah kesan-kesan.
- Phassa Paccayä Vedanä.Dengan adanya kesan-kesan, maka terjadilah perasaan.
- Vedanä Paccayä Tanhä.Dengan adanya perasaan, maka terjadilah tanhä (keinginan).
- Tanhä Paccayä Upädänang.Dengan adanya tanhä (keinginan), maka terjadilah kemelekatan.
- Upädäna Paccayä Bhavo.Dengan adanya kemelekatan, maka terjadilah proses tumimbal lahir.
- Bhava Paccayä Jati.Dengan adanya proses tumimbal lahir, maka terjadilah kelahiran kembali.
- Jati Paccayä Jaramaranang.Dengan adanya kelahiran kembali, maka terjadilah kelapukan, kematian, keluh-kesah, sakit dll.
- Jaramarana.Kelapukan, kematian, keluh-kesah, sakit dll. adalah akibat dari kelahiran kembali.
7. HUKUM KAMMA
Kamma adalah kata bahasa Pali yang berarti “perbuatan”, yang dalam arti umum meliputi semua jenis kehendak dan maksud perbuatan, yang baik maupun yang buruk, lahir atau bathin dengan pikiran kata-kata atau tindakan. Makna yang luas dan sebenarnya dari Kamma, ialah semua kehendak atau keinginan dengan tidak membeda-bedakan apakah kehendak atau keinginan itu baik (bermoral) atau buruk (tidak bermoral), mengenai hal ini Sang Buddha pernah bersabda :
“O, bhikkhu, kehendak untuk berbuat (Pali : Cetana) itulah yang Kami namakan Kamma. Sesudah berkehendak orang lantas berbuat dengan badan, perkataan atau pikiran.”
Kamma bukanlah satu ajaran yang membuat manusia menjadi orang yang lekas berputus-asa, juga bukan ajaran tentang adanya satu nasib yang sudah ditakdirkan. Memang segala sesuatu yang lampau mempengaruhi keadaan sekarang atau pada saat ini, akan tetapi tidak menentukan seluruhnya, oleh karena kamma itu meliputi apa yang telah lampau dan keadaan pada saat ini, dan apa yang telah lampau bersama-sama dengan apa yang terjadi pada saat sekarang mempengaruhi pula hal-hal yang akan datang. Apa yang telah lampau sebenarnya merupakan dasar di mana hidup yang sekarang ini berlangsung dari satu saat ke lain saat dan apa yang akan datang masih akan dijalankan. Oleh karena itu, saat sekarang inilah yang nyata dan ada “di tangan kita” sendiri untuk digunakan dengan sebaik-baiknya. Oleh sebab itu kita harus hati-hati sekali dengan perbuatan kita, supaya akibatnya senantiasa akan bersifat baik.
Kita hendaknya selalu berbuat baik, yang bermaksud menolong mahluk-mahluk lain, membuat mahluk-mahluk lain bahagia, sehingga perbuatan ini akan membawa satu kamma-vipaka (akibat) yang baik dan memberi kekuatan kepada kita untuk melakukan kamma yang lebih baik lagi. Satu contoh yang klasik adalah sbb. :
Lemparkanlah batu ke dalam sebuah kolam yang tenang. Pertama-tama akan terdengar percikan air dan kemudian akan terlihat lingkaran-lingkaran gelombang. Perhatikanlah bagaimana lingkaran ini makin lama makin melebar, sehingga menjadi begitu lebar dan halus yang tidak dapat lagi dilihat oleh mata kita. Ini bukan berarti bahwa gerak tadi telah selesai, sebab bilamana gerak gelombang yang halus itu mencapai tepi kolam, ia akan dipantulkan kembali sampai mencapai tempat bekas di mana batu tadi dijatuhkan.
Begitulah semua akibat dari perbuatan kita akan kembali kepada kita seperti halnya dengan gelombang di kolam yang kembali ke tempat dimana batu itu dijatuhkan.
Sang Buddha pernah bersabda (Samyutta Nikaya I, hal. 227) sbb :
“Sesuai dengan benih yang telah ditaburkan begitulah buah yang akan dipetiknya, pembuat kebaikan akan mendapat kebaikan, pembuat kejahatan akan memetik kejahatan pula. Tertaburlah olehmu biji-biji benih dan engkau pulalah yang akan merasakan buah-buah dari padanya”.
Segala sesuatu yang datang pada kita, yang menimpa diri kita, sesungguhnya benar adanya. Bilamana kita mengalami sesuatu yang membahagiakan, yakinlah bahwa kamma yang telah kita perbuat adalah benar. Sebaliknya bila ada sesuatu yang menimpa kita dan membuat kita tidak senang, kamma-vipaka itu menunjukkan bahwa kita telah berbuat suatu kesalahan. janganlah sekali-kali dilupakan hendaknya bahwa kamma-vipaka itu senantiasa benar. Ia tidak mencintai maupun membenci, pun tidak marah dan juga tidak memihak. Ia adalah hukum alam, yang dipercaya atau tidak dipercaya akan berlangsung terus.
Terdapat dua belas jenis bentuk-bentuk kamma yang tidak diperinci di sini. Bentuk kamma yang lebih berat (bermutu) dapat menekan — bahkan menggugurkan — bentuk-bentuk kamma yang lain. Ada orang yang menderita hebat karena perbuatan kecil, tetapi ada juga yang hampir tidak merasakan akibat apapun juga untuk perbuatan yang sama. Mengapa? Orang yang telah menimbun banyak kamma baik, tidak akan banyak menderita karena perbuatan itu, sebaliknya orang yang tidak banyak melakukan kamma-kamma baik akan menderita hebat.
Singkatnya : Kamma Vipaka dapat diperlunak, dibelokkan, ditekan, bahkan digugurkan.
Kamma dapat dibagi dalam tiga golongan :
- Kamma Pikiran (mano-kamma).
- Kamma Ucapan (vaci-kamma).
- Kamma Perbuatan (kaya-kamma).
- Gemar beramal dan bermurah hatiakan berakibat dengan diperolehnya kekayaan dalam kehidupan ini atau kehidupan yang akan datang.
- Hidup bersusilamengakibatkan terlahir kembali dalam keluarga luhur yang keadaannya berbahagia.
- Bermeditasiberakibat dengan terlahir kembali di alam-alam sorga.
- Berendah hati dan hormatmenyebabkan terlahir kembali dalam keluarga luhur.
- Berbaktiberbuah dengan diperolehnya penghargaan dari masyarakat.
- Cenderung untuk membagi kebahagiaan kepada orang lainberbuah dengan terlahir kembali dalam keadaan berlebih-lebihan dalam banyak hal.
- Bersimpati terhadap kebahagiaan orang lainmenyebabkan terlahir dalam lingkungan yang menggembirakan.
- Sering mendengarkan Dhammaberbuah dengan bertambahnya kebijaksanaan.
- Menyebarkan Dhammaberbuah dengan bertambahnya kebijaksanaan (sama dengan No. 8).
- Meluruskan pandangan orang lainberbuah dengan diperkuatnya keyakinan.
- Pembunuhanakibatnya pendek umur, berpenyakitan, senantiasa dalam kesedihan karena terpisah dari keadaan atau orang yang dicintai, dalam hidupnya senantiasa berada dalam ketakutan
- Pencurianakibatnya kemiskinan, dinista dan dihina, dirangsang oleh keinginan yang senantiasa tak tercapai, penghidupannya senantiasa tergantung pada orang lain.
- Perbuatan a-susilaakibatnya mempunyai banyak musuh, beristeri atau bersuami yang tidak disenangi, terlahir sebagai pria atau wanita yang tidak normal perasaan seksnya.
- Berdustaakibatnya menjadi sasaran penghinaan, tidak dipercaya khalayak ramai.
- Bergunjingakibatnya kehilangan sahabat-sahabat tanpa sebab yang berarti.
- Kata-kata kasar dan kotorakibatnya sering didakwa yang bukan-bukan oleh orang lain.
- Omong kosongakibatnya bertubuh cacad, berbicara tidak tegas, tidak dipercaya oleh khalayak ramai.
- Keserakahanakibatnya tidak tercapai keinginan yang sangat diharap-harapkan.
- Dendam, kemauan jahat / niat untuk mencelakakan mahluk lainakibatnya buruk rupa, macam-macam penyakit, watak tercela.
- Pandangan salahakibatnya tidak melihat keadaan yang sewajarnya, kurang bijaksana, kurang cerdas, penyakit yang lama sembuhnya, pendapat yang tercela.
Lima perbuatan durhaka di bawah ini mempunyai akibat yang sangat berat ialah kelahiran di alam neraka :
- Membunuh ibu.
- Membunuh ayah.
- Membunuh seorang Arahat.
- Melukai seorang Buddha.
- Menyebabkan perpecahan dalam Sangha.
8.HIRI DAN OTAPPA
Dua ciri khas yang dianggap dua sifat yang membantu melindungi dunia dari kekacauan :
- HiriPerasaan malu, yaitu malu melakukan hal-hal yang tidak baik.
- OtappaPerasaan takut, yaitu takut akan akibat yang timbul dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik.
Dalam penghidupan seorang manusia tidak dapat terlepas dari 8 (delapan) keadaan, yaitu :
- läbha – aläbhauntung – rugi
- yasa – ayasaterkenal – tak terkenal
- nindä – pasamsädicela – dipuji
- sukha – dukkhagembira, bahagia – sedih, menderita dll.
Kamis, 13 Maret 2014
PANDANGAN-PANDANGAN KELIRU MENGENAI KARMA
1. Karma hanya dianggap sebagai hal yang buruk saja.
Pandangan ini beranggapan bahwa karma hanya dianggap sebagai hasil yang buruk saja yang menimpa seseorang yang telah melakukan perbuatan buruk. Pandangan keliru (miccha ditthi) ini terjadi karena adanya kerancuan antara kamma (perbuatan) dengan kamma vipaka (hasil perbuatan) dan pemahaman yang salah terhadap karma. Padahal, karma yang berarti perbuatan sedangkan hasilnya disebut vipaka, tidak hanya berhubungan dengan perbuatan buruk ataupun akibat buruk semata, tetapi juga perbuatan baik ataupun akibat yang baik. Karma vipaka (hasil perbuatan) tidak hanya berkaitan dengan hal-hal yang buruk tetapi juga hal-hal yang baik yang dialami oleh seseorang. Contoh: seseorang gemar berdana sehingga ia dihormati oleh setiap orang. Gemar berdana adalah karma baik dan dihormati orang lain merupakan kamma vipaka (hasil perbuatan) yang baik.
2. Kamma vipaka (hasil karma) dianggap sebagai nasib atau takdir yang tidak bisa diubah.
Pandangan ini dikatakan keliru karena Ajaran Buddha tidak mengajarkan paham Takdir (Niyativada ), juga tidak mengajarkan paham Bebas bertindak (Attakiriyavada), tapi suatu Kehendak berprasyarat (Inggris : Conditioned ).
jika hal itu terjadi maka seseorang tidak akan dapat bebas dari penderitaan- nya. Padahal seseorang dapat mengubah apa yang sedang ia alami. Selain itu, Guru Buddha telah mengajarkan mengenai Viriya atau semangat membaja yang berguna untuk mengatasi segala kesulitan. Sebagai contoh, seseorang yang lahir dalam keluarga yang kekurangan (miskin) karena kamma kehidupan lampau yang buruk yang telah ia lakukan dikehidupan yang lalu, ia dapat mengubah kondisi yang dialaminya tersebut dengan bekerja keras sehingga ia tidak lagi hidup dalam kemiskinan.
3. Prinsip kerja hukum karma adalah mata dibayar mata, nyawa dibayar nyawa.
Pandangan ini beranggapan bahwa karma akan selalu menghasilkan bentuk yang sama dengan hasil perbuatan (kamma vipaka), membunuh maka akan akan dibunuh, mencuri maka akan dicuri, menipu maka akan ditipu, dan sebagainya. Pandangan ini keliru karena karma memiliki karakter yang dinamis dan tidak lepas dari kondisi-kondisi yang ada, sehingga tidak selamanya bentuk dari hasil karma akan sama dengan bentuk karmanya. Tetapi yang dapat dipastikan adalah sifatnya, dimana karma yang sifat buruk pasti akan menghasilkan hal yang sifatnya juga buruk, karma baik pasti akan menghasilkan hal yang sifatnya juga baik.
4. Karma orang tua diwarisi oleh anaknya.
Pandangan ini beranggapan bahwa orang tua yang melakukan karma buruk maka hasilnya (vipaka) akan di terima oleh anaknya atau keluarga lainnya.
Pandangan ini keliru karena prinsip kerja karma adalah siapa yang melakukan perbuatan maka ia akan yang menerima hasilnya. Dalam Cullakammavibhanga Sutta; Majjhima Nikaya 135 ,Sang Buddha bersabda :
"Semua mahluk hidup mempunyai kamma sebagai milik mereka, mewarisi kammanya sendiri, lahir dari kammanya sendiri, berhubungan dengan kammanya sendiri, dilindungi oleh kammanya sendiri. Kamma itulah yang membedakan makhluk hidup dalam keadaan rendah atau tinggi."
Dalam kasus tertentu terlihat sepertinya orang tua yang melakukan karma buruk dan anaknya yang mengalami penderitaan. Hal ini bukan berarti karma buruk orang tua diwarisi oleh anaknya, tetapi ini lebih berarti bahwa karma buruk orang tua tersebut memicu karma buruk si anak untuk berbuah. Dengan kata lain seseorang akan menerima akibat dari karmanya sendiri, tetapi karmanya dapat mempengaruhi atau mengkondisikan karma orang lain untuk berbuah.
5. Segala sesuatu yang terjadi pada saat ini adalah akibat dari perbuatan pada kehidupan lampaunya.
Pandangan ini beranggapan bahwa setiap kejadian yang kita alami; tersandung, jatuh sakit, menang undian, terlahir tampan, semuanya adalah hasil Karma lampau semata-mata. Dengan alasan yang sangat tepat Sang Buddha menolak kepercayaan salah tersebut. Sebab bila demikian halnya, maka sia-sia untuk berbuat baik dan menghindari perbuatan tercela, sebab keseluruhan hidup telah ditentukan sebelumnya. Pengertian Salah seperti inilah yang membuat seseorang bersikap apatis / Pasrah dan tak bersemangat untuk berupaya memperbaiki Karma buruknya.
Sang Buddha bersabda : " Ada beberapa pertapa dan kaum Brahmin, yang mempercayai dan mengajarkan bahwa apapun yang dialami seseorang, menyenangkan, menyakitkan atau netral, semua disebabkan oleh kamma lampau. . Aku menemui mereka dan bertanya apakah benar mereka mengajarkan hal yang demikian...., mereka ternyata mengiyakan.
Aku berkata : "Bila demikian, tuan yang terhormat, seseorang membunuh, mencuri dan berzina disebabkan kamma lampau. Mereka berbohong, berfitnah, berkata kasar dan tak berharga disebabkan kamma lampau. Mereka menjadi serakah, membenci dan penuh pandangan salah disebabkan kamma lampau ?.
Mereka yang mendasarkan segala sesuatu pada kamma lampau sebagai unsur penentu, akan kehilangan keinginan dan usaha untuk berbuat ini atau tak berbuat itu " ( Angutta Nikaya I : 173 ).
Mereka yang mendasarkan segala sesuatu pada kamma lampau sebagai unsur penentu, akan kehilangan keinginan dan usaha untuk berbuat ini atau tak berbuat itu " ( Angutta Nikaya I : 173 ).
6. Karma maupun vipaka (hasil karma) ditentukan oleh Tuhan.
Pandangan ini beranggapan bahwa semua yang diperbuat dan dialami seseorang pada masa sekarang, baik hal yang baik maupun buruk tidak lain merupakan kehendak tuhan.
Pandangan ini keliru karena jika hal itu terjadi maka semua perbuatan dan semua yang dialami seseorang tidak lain hanya merupakan kehendak tuhan, sehingga seseorang tidak memiliki kehendak bebas, hanya akan menjadi "boneka" yang tidak bisa membebaskan diri dari penderitaan dan akan menjadi seseorang yang tidak memiliki kewaspadaan dan pengendalian diri. Hal ini telah dibabarkan oleh Guru Buddha dalam Tittha Sutta; Anguttara Nikaya 3.61.
jika memang demikian, maka seorang pembunuh, perampok, pencuri atau pelacur tidak perlu bertanggung jawab terhadap semua perbuatan buruknya atau dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan jahatnya, karena semua perbuatannya adalah atas kehendak Tuhan.
7. Karma buruk dikehidupan lampau dapat dihilangkan /dihapuskan.
Pandangan ini beranggapan bahwa karma (perbuatan) buruk yang telah dilakukan seseorang, dapat dihilangkan/dihapuskan.
Pandangan ini keliru karena bagaimanapun juga perbuatan buruk itu telah dilakukan dan telah terjadi, sehingga akibat dari perbuatan buruk itu pasti akan diterimanya dan tidak dapat dihapuskan.
Sebagai contoh; Sang Buddha sendiri tetap menerima hasil dari karma buruk kehidupan lampauNya berupa terlukanya kaki Beliau karena batu yang digulingkan oleh Devadatta. Jika karma kehidupan lampau bisa dihapuskan maka Sang Buddha pasti dengan mudah menghilangkannya dan kaki Beliau tidak akan terluka.
Karma masa lampau tetap akan menimbulkan hasilnya seperti yang telah dijelaskan oleh Sang Buddha dalam Lonaphala Sutta; Anguttara Nikaya 3.99, dengan menggunakan perumpamaan garam yang sama banyaknya, yang satu dimasukkan ke dalam air di cangkir dan dan yang lain ke dalam sungai Ganga. Garam diibaratkan sebagai karma buruk dan air adalah karma baik. Ketika garam dimasukan ke dalam sebuah cangkir maka rasa garam tersebut akan terasa asin. Sedangkan garam yang jumlahnya sama dimasukan ke dalam sungai, maka air sungai tersebut tidak akan terasa asin. Jadi karma buruk kehidupan lampau akan memberikan hasil/dampak tetapi dengan adanya karma baik yang banyak yang dilakukan pada masa sekarang maka dampak dari karma buruk tersebut menjadi berkurang bahkan tidak terasa.
8. Hukum Karma hanya berlaku bagi orang yang mempercayainya sesuai dengan agama yang dipeluknya.
Pandangan ini keliru, karena Hukum Karma sesungguhnya adalah merupakan hukum alam yang bersifat universal, yang mempercayainya ataupun yang tidak mempercayainya, tak peduli apapun agama dan kepercayaan yang dianutnya akan tetap menerima akibat dari perbuatan yang dilakukan oleh pikiran, ucapan dan tubuh jasmaninya sendiri.
Demikian pula bagi seseorang yang tidak percaya pada kehidupan masa lampau dan hukum Karma, tetap bisa berbahagia sebagai hasil dari perbuatan baiknya dimasa lampau.
" Sesuai dengan benih yang ditanam, itulah buah yang akan engkau peroleh.
Pelaku kebaikan akan memperoleh kebaikan.
Pelaku keburukan akan memperoleh keburukan.
Jika engkau menanamkan benih yang baik,
maka engkau menikmati buah yang baik ".
( Samyutta Nikaya I : 227 ).
Pelaku kebaikan akan memperoleh kebaikan.
Pelaku keburukan akan memperoleh keburukan.
Jika engkau menanamkan benih yang baik,
maka engkau menikmati buah yang baik ".
( Samyutta Nikaya I : 227 ).
JENIS-JENIS KAMMA
64. Dua jenis Kamma berdasarkan sifatnya:
1). Kamma Buruk/Jahat atau disebut dengan Akusala kamma, yaitu:
Perbuatan Jahat/buruk yang didasari oleh pikiran yang diliputi oleh lobha (keserakahan), dosa (kebencian), dan moha (kebodohan batin).
-Contoh : membunuh, mencuri, berbohong, mabuk-mabukan, dsb.
2). Kamma Baik atau disebut dengan Kusala kamma, yaitu;
Perbuatan Baik yang didasari oleh pikiran yang diliputi oleh adosa ketidakbencian), alobha (ketidakserakahan), dan amoha (ketidak bodohan batin).
-Contoh : berdana, menolong makhluk yang kesukaran, berkata jujur, bermeditasi, dan sebagainya.
I. EMPAT JENIS KAMMA BERDASARKAN JANGKA WAKTUNYA
...
(Pakakalacatukka)
1.Dittha dhamma vedaniya Kamma (Kamma langsung berbuah)yaitu :Kamma yang menghasilkan akibat (vipaka) dalam jangka waktu satu kehidupan.
Kamma ini terbagi 2 macam, yaitu :
a)Kamma yang telah masak dan memberikan hasil dalam kehidupan sekarang ini, atau disebut dengan Paripakka Dittha dhamma vedaniya Kamma.
Contoh 1.: Seorang miskin bernama Punna yang memberikan dana makanan kepada Y.A. Sariputta Maha Thera menjadi kaya-raya dalam waktu tujuh hari setelah berdana.
Contoh 2.: Misalnya saja ketika kita mengambil helm milik orang lain, karena helm kita sendiri telah dicuri seseorang. Supaya tidak ketahuan, kita mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi walaupun lampu lalu lintas berwarna merah. Akhirnya kita ditangkap polisi. Terpaksa kita harus membayar tilang Rp 15.000,- (padahal harga sebuah helm hanya Rp 10.000,-). Ini adalah salah satu contoh sederhana kamma yang langsung berbuah.
b)Kamma yang memberikan hasil setelah lewat tujuh hari (Aparipakka Dittha dhamma vedaniya).
Contoh: Jika berbuat kebaikan atau kejahatan dalam usia muda, akan dipetik hasil dalam usia muda atau usia tua dalam kehidupan sekarang ini juga.
2.Upapajjavedaniya Kamma yaitu: Kamma yang menghasilkan akibat (vipaka) pada kehidupan berikutnya, yaitu satu kehidupan setelah kehidupan sekarang.
Misalnya orang yang melakukan meditasi hingga mencapai jhana tertentu, maka setelah meninggal ia akan langsung terlahir di Alam Brahma.
3.Aparapariyavedaniya Kamma yaitu: Kamma yang menghasilkan akibat (vipaka) pada kehidupan berikutnya secara berturut-turut.
Salah satu contoh adalah orang yang sering mendengarkan Dhamma, besar kemungkinan ia akan terlahir kembali di alam sorga dalam kehidupan-kehidupan yang berikutnya. Mengapa demikian? Dengan mendengarkan Dhamma, orang tersebut telah melakukan kamma baik karena ia telah melatih berdana perhatian. Selama mendengarkan Dhamma, ia juga telah memusatkan pikiran, ucapan serta perbuatannya ke arah kebajikan, apalagi jika ia dapat mengerti serta melaksanakan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari. Kebajikan ini tentunya sangat selaras dengan salah satu isi kotbah Sang Buddha yang menyatakan bahwa mendengarkan Dhamma pada saat yang sesuai adalah Berkah Utama.
4.Ahosi Kamma yaitu: Kamma yang tidak sempat berbuah karena telah kehabisan waktu atau kehilangan kesempatan untuk berbuah, karena:
a)Jangka waktu untuk memberikan hasilnya telah habis, atau
b) Kamma yang menghasilkan akibatnya telah habis, atau
c) Kamma tersebut telah menghasilkan akibatnya secara penuh.
Ahosi Kamma terbentuk ketika kekuatan suatu perbuatan (kamma)terhalangi oleh kekuatan perbuatan (kamma) lain yang sangat besar. Selain itu Ahosi Kamma terbentuk jika tidak adanya kondisi-kondisi pendukung yang dibutuhkan untuk kamma itu berbuah, sehingga kamma tersebut tidak menghasilkan akibat(vipaka).
Contoh: YA. Angulimala Thera, dulunya sebelum menjadi anggota Sangha, pernah menjadi penjahat dan telah membunuh 999 orang. Setelah Beliau bertemu dengan Sang Buddha, Beliau menyadari perbuatan keliru dan kemudian ditahbiskan menjadi Bhikkhu. Beliau melatih diri dengan jalan melaksanakan Vipassana Bhavana secara tekun, dan akhirnya Beliau mencapai kesucian tingkat Arahat.
Jadi, kejahatan Beliau yang telah membunuh ratusan orang itu menjadi Ahosi Kamma, karena sewaktu Beliau mencapai kesucian tingkat pertama, yaitu Sotapatti-magga, maka dengan kekuatan magga pertama itu, Beliau telah membasmi Kilesa (kekotoran batin) yang berat sehingga pintu alam Apaya tertutup dengan rapat. Ini berarti pula perbuatan membunuh ratusan orang itu menjadi Ahosi Kamma, yaitu Kamma yang tidak menimbulkan akibat sama-sekali.
Sering orang mengatakan bahwa tercapainya Nibbana (Bhs. Pali) atau Nirvana (Bhs. Sanskerta) adalah ketika kamma baik dan kamma buruknya telah habis. Padahal kamma itu sangat sulit untuk dapat habis berbuah karena jumlahnya yang tidak terbatas. Namun, kamma dapat dipotong. Kita dapat merasakan buah kamma apabila kita masih mempunyai badan dan batin, artinya kita masih hidup setelah dilahirkan. Apabila kita tidak dilahirkan kembali, maka kesempatan untuk merasakan buah kamma baik maupun buruk sudah tidak ada lagi. Dengan demikian, ada berbagai kamma yang tidak sempat berbuah.
II. EMPAT JENIS KAMMA BERDASARKAN FUNGSINYA
...
(Kiccacatukka)
1. Janaka Kamma (Fungsi kamma penghasil) yaitu Kamma yang menyebabkan timbulnya syarat untuk terlahirnya kembali suatu makhluk didalam 31 alam kehidupan (bhumi 31). Kamma ini menimbulkan Batin (Nama) dan Jasmani (Rupa).
Contoh: - Seseorang terlahir dilingkungan keluarga yang bahagia, serba berkecukupan dan memperoleh pendidikan yang baik, dan kebalikannya seseorang terlahir dilingkungan keluarga yang amburadul, serba kekurangan/miskin dan tidak pernah mengenyam pendidikan yang layak.
2. Upatthambhaka Kamma (Fungsi kamma pendukung)yaitu kekuatan yang mendorong terpeliharanya suatu akibat dari pada sebab (kamma) yang telah timbul. Kamma ini mendukung fungsi kamma yang melahirkan (Janaka Kamma), yaitu :
a) Membantu Janaka Kamma yang belum waktunya untuk menimbulkan hasil, memberikan waktu menimbulkan hasil /akibat.
b) Membantu Janaka Kamma yang sedang mempunyai waktu menimbulkan hasil memberikan kekuatan untuk menimbulkan hasil secara sempurna.
c) Membantu Nama-Rupa (Batin-jasmani) yang dilahirkan Janaka Kamma menjadi maju dan bertahan lama.
- Contoh 1.:- Selain ia terlahir di keluarga yang miskin, dia juga terlahir dalam keadaan cacat. Inilah salah satu contoh kamma yang mendukung.
- Contoh 2.: - Umur seseorang yang semestinya ditetapkan oleh Janaka Kamma hanya hidup selama 60 tahun dibumi ini, tetapi didalam kehidupannya sehari-hari ia banyak melakukan perbuatan baik, suka menolong makhluk lain, berdana, melaksanakan sila dan selalu waspada dalam semua tindakan pikiran, ucapan dan perbuatan jasmaninya sehingga umur yang ditetapkan oleh Janaka Kamma selama 60 tahun tersebut bertambah 20 tahun lagi.
3. Upapilaka Kamma (Fungsi kamma pelemah) yaitu Kamma yang menekan, mengolah, menyelaraskan satu akibat dari satu sebab. Fungsi kamma pelemah ini berhubungan dengan perbuatan baik maupun buruk yang dilakukan dalam kehidupan saat ini. Kamma ini adalah menekan Janaka Kamma, yaitu :
a) Upapilaka Kamma yang menekan Janaka Kamma supaya tidak ada waktu menimbulkan hasil.
b) Upapilaka Kamma yang menekan Janaka Kamma yang mempunyai waktu menimbulkan hasil supaya mempunyai kekuatan menurun.
c) Upapilaka Kamma yang menekan Nama-Rupa (Batin-jasmani) yang dilahirkan Janaka Kamma.
- Contoh 1.:- Meskipun seseorang terlahir sebagai orang yang miskin serta cacat, orang tersebut mungkin saja mempunyai perilaku kemoralan yang baik.
- Contoh 2.:- Budi seorang narapidana yang divonis 10 tahun hukuman penjara, namun dalam kesehariannya, ia sering menunjukan tabiat yang baik, rajin bekerja, maka Budi mendapatkan keringanan hukuman menjadi 7 tahun saja.
4. Upaghataka Kamma (Fungsi kamma penghancur) yaitu fungsi kamma yang menghancurkan atau memotong kekuatan akibat dari satu sebab yang telah terjadi dan sebaliknya menyuburkan berkembangnya kamma baru.
Jadi upaghataka-kamma adalah kamma yang memotong kamma maupun hasil dari kamma lainnya secara menyeluruh.
Pemotongan dari upaghataka-kamma ada 2 macam:
a) Memotong janaka-kamma supaya tidak ada waktu untuk menimbulkan hasil/akibat untuk selamanya.(Kammantara-Upaghataka).
b) Memotong nama-rupa yang dilahirkan oleh janaka-kamma sampai rusak (Kamma nibbata-khandha-santana-upaghataka).
- Contoh 1.: -Walaupun orang itu cacat tubuhnya, Karena perilaku kemoralannya baik, ucapannya serta tingkah lakunya juga baik, maka mungkin saja ada orang yang simpati kepadanya. Orang tersebut mungkin akan memberinya pekerjaan yang sesuai dengan keadaannya. Inilah salah satu contoh kamma yang memotong, artinya bertentangan atau memotong buah kamma yang sedang berlangsung atau buah kamma yang sedang dialaminya.
- Contoh 2.: - Misalnya: “A” adalah seorang pemain bulutangkis. Ia sering menjadi juara dalam beberapa pertandingan dan bulutangkis adalah karirnya. Suatu hari, saat “A” mengendarai mobil, tiba-tiba ia menabrak truk yang ada didepannya. Akibatnya, tangan kanannya patah dan cacat seumur hidup sehingga karirnya menjadi hancur.
Kamma sangat berhubungan dengan perbuatan seseorang saat ini. Segala sesuatu yang dilakukan pada saat ini akan menentukan buah kamma di masa depan. Dengan demikian, kamma bukanlah nasib yang tidak bisa diubah. Kamma masih dapat diperbaiki dan diubah dengan melakukan berbagai kamma atau perbuatan yang lain. Jadi, perbuatan saat inilah yang paling penting!
III. EMPAT JENIS KAMMA BERDASARKAN SIFAT HASILNYA
...
(Pakadanapariyayaca tukka).
1. Garuka Kamma yaitu Kamma Berat, yang memiliki kualitas kekuatan yang besar yang mampu menimbulkan hasil dalam waktu satu kehidupan atau kehidupan kedua, dan kekuatan kamma lain tidak mampu mencegahnya. Garuka Kamma terdiri dari 2 jenis yaitu:
a) Akusala Garuka Kamma adalah Perbuatan Buruk/Jahat yang berat. Yang disebut Akusala Garuka Kamma (Perbuatan jahat yang berat) adalah Niyata miccha ditthi-Kamma (Perbuatan pandangan salah yang pasti) dan Pancanantariya-Kamma (Lima perbuatan durhaka, yaitu membunuh ibu, membunuh ayah, membunuh Arahat, melukai seorang Buddha dan memecah-belah Sangha). Apabila seseorang melakukan salah satu atau lebih dari kelima perbuatan buruk tersebut, maka setelah meninggal dunia, orang tersebut langsung terlahir di Alam Neraka Avici. (Alam yang menyedihkan, yaitu alam neraka, alam setan, alam binatang dan alam asura). Akusala Garuka Kamma juga disebut dengan Anantariya Kamma karena dampaknya masih dapat di rasakan dikehidupan selanjutnya. Hal ini dijelaskan oleh Guru Buddha dalam Parikuppa Sutta; Anguttara Nikaya 5.129.
- Contoh: Devadatta yang telah melukai kaki Guru Buddha dan memecah-belah Sangha, dilahirkan kembali di alam neraka avici. Dan Raja Ajatasattu yang telah membunuh ayahnya (Raja Bimbisara) tidak dapat meraih kesucian Sotapana (tingkat kesucian pertama) karena kekuatan besar dari Akusala Garuka Kamma.
b) Kusala Garuka Kamma adalah Perbuatan Baik yang berat. Yang disebut Kusala Garuka Kamma adalah hasil dari melaksanakan Samatha-Bhavana (meditasi ketenangan batin) sehingga mencapai Rupa-Jhana 4 dan Arupa-Jhana 4 atau disebut Jhana 8, akibatnyapun lebih cepat daripada tingkatan batin yang lainnya. Akibat dari melakukan Kusala Garuka Kamma adalah tumimbal-lahir di alam Brahma.
Kamma jenis ini juga bisa terjadi untuk mereka yang telah melatih meditasi pengembangan kesadaran sehingga mencapai kebijaksanaan atau mencapai Nibbana. Dengan tercapainya Nibbana, maka ia sudah tidak akan terlahir kembali di alam manapun juga setelah ia meninggal di kehidupan ini.
Akusala Garuka Kamma, bila tidak ada waktu menimbulkan hasil, tetapi mempunyai kesempatan untuk menjadi Upatthambhaka Kamma (Kamma penunjang). Sebaliknya, Kusala Garuka Kamma , bila tidak ada waktu menimbulkan hasil, akan menjadi Ahosi Kamma dan tidak mempunyai kesempatan untuk menjadi Upatthambhaka Kamma (Kamma penunjang).
2. Asanna Kamma(Kamma yang berkesan yang muncul pada saat kematian) Pada saat seseorang akan meninggal dunia, maka pikirannya akan mengingat perbuatan kusala kamma (perbuatan baik) dan akusala kamma (perbuatan buruk/jahat) yang dilakukannya.
Apabila tidak ada perbuatan berat (kamma berat) yang pernah dilakukan selama hidupnya, maka pikirannya akan mengingat salah satu perbuatan yang paling berkesan dalam hidupnya.
Kamma inilah yang akan menentukan keadaan kelahiran seseorang yang akan datang jika tidak ada kekuatan kamma lain yang lebih besar lagi yang menentukan.
- Misalnya:- Ia teringat kesan baik ketika ia mendengarkan Dhamma atau sering bertemu dengan para bhikkhu. Apabila ia meninggal pada saat mengingat kesan baik tersebut, ia akan terlahir di alam bahagia. Sebaliknya kalau ia teringat kesan perbuatan yang tidak baik, maka ia dapat saja terlahir di alam menderita.
- Contoh :- Seorang algojo pada saat menjelang ajalnya, ia mengingat pernah memberi sedekah kepada Y.A. Sariputta. Dengan mengingat hal ini ia terlahir di alam yang bahagia. Namun, meskipun terlahir di alam bahagia, ia tetap memperoleh dampak buruk dari apa perbuatan buruk yang pernah ia lakukan.
Ini pula sebabnya seseorang yang akan meninggal dunia dilakukan upacara pembacaan Paritta. Salah satu tujuan upacara ritual ini adalah untuk membantu orang yang akan meninggal tersebut mengingat berbagai kesan kebajikan yang telah dilakukannya selama hidup. Dengan demikian, ia akan mempunyai kondisi untuk terlahir di alam bahagia.
3. Acinna Kamma atau Bahula Kamma adalah merupakan kamma yang secara terus menerus dilakukan dan diingat seseorang serta padanya ia mempunyai kemelekatan yang kuat (Kamma Kebiasaan), yaitu perbuatan baik dan jahat yang merupakan kebiasaan bagi seseorang karena sering dilakukan.
Kalau di dalam proses kematian itu tidak ada perbuatan yang berkesan atau tidak sempat berpikir, misalnya karena ia meninggal dalam keadaan koma atau kecelakaan fatal, maka hal yang menentukan kelahiran kembalinya adalah perbuatan yang menjadi kebiasaan dalam hidupnya.
Misalnya, orang yang mempunyai kebiasaan bermain musik, apabila pada saat meninggal dunia ia teringat dengan kebiasaannya itu, maka ia dapat saja terlahir kembali sebagai orang yang memiliki bakat bermain musik sejak kecil.
- Contoh:- Cunda seorang penjagal babi, yang hidup disekitar vihara tempat Guru Buddha berdiam, ia meninggal dengan mendengking seperti babi karena kebiasaannya memotong babi.
4. Kattata Kamma adalah Kamma yang tidak terlalu berat dirasakan akibatnya. Kamma ini yang paling lemah di antara semua kamma. Kamma ini merupakan perbuatan baik (kusala kamma) dan perbuatan jahat (akusala kamma) yang pernah dibuat dalam kehidupan lampau dan kehidupan sekarang ini yang hampir tidak didorong oleh kehendak. Kamma ini berproses apabila ketiga kamma diatas tidak pernah dilakukan.
- Misalnya:- Pada satu saat, seseorang pernah melihat dan menyingkirkan paku agar tidak ada orang lain yang terluka karenanya, apabila kamma sederhana yang membahagiakan ini timbul di saat kematian, ia dapat pula terlahir di alam bahagia.
65. Dari keterangan di atas, dapatlah dimengerti bahwa kamma walaupun hanya Satu, namun dari berbagai sudut pandang, kamma dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu menurut waktu, fungsi dan sifatnya. Setiap kelompok terdiri dari empat bagian. Dengan demikian, secara keseluruhan, Satu kamma yang dimiliki oleh seseorang dapat dimengerti sebagai 12 jenis kamma yang saling berkaitan menjadi satu kesatuan.
Seorang umat Buddha yang yakin sepenuhnya pada hukum Kamma, tidak berdoa pada pihak lain untuk diselamatkan tetapi dengan yakin bergantung pada diri sendiri untuk kebebasannya. Daripada membuat berbagai penyerahan, atau menyetujui berbagai perantara istimewa, ia akan bergantung pada kekuatan kemauannya dan bekerja tiada hentinya demi kesejahteraan dan kebahagiaan semua.
(Ven. Narada Mahathera)
1). Kamma Buruk/Jahat atau disebut dengan Akusala kamma, yaitu:
Perbuatan Jahat/buruk yang didasari oleh pikiran yang diliputi oleh lobha (keserakahan), dosa (kebencian), dan moha (kebodohan batin).
-Contoh : membunuh, mencuri, berbohong, mabuk-mabukan, dsb.
2). Kamma Baik atau disebut dengan Kusala kamma, yaitu;
Perbuatan Baik yang didasari oleh pikiran yang diliputi oleh adosa ketidakbencian), alobha (ketidakserakahan), dan amoha (ketidak bodohan batin).
-Contoh : berdana, menolong makhluk yang kesukaran, berkata jujur, bermeditasi, dan sebagainya.
I. EMPAT JENIS KAMMA BERDASARKAN JANGKA WAKTUNYA
...
(Pakakalacatukka)
1.Dittha dhamma vedaniya Kamma (Kamma langsung berbuah)yaitu :Kamma yang menghasilkan akibat (vipaka) dalam jangka waktu satu kehidupan.
Kamma ini terbagi 2 macam, yaitu :
a)Kamma yang telah masak dan memberikan hasil dalam kehidupan sekarang ini, atau disebut dengan Paripakka Dittha dhamma vedaniya Kamma.
Contoh 1.: Seorang miskin bernama Punna yang memberikan dana makanan kepada Y.A. Sariputta Maha Thera menjadi kaya-raya dalam waktu tujuh hari setelah berdana.
Contoh 2.: Misalnya saja ketika kita mengambil helm milik orang lain, karena helm kita sendiri telah dicuri seseorang. Supaya tidak ketahuan, kita mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi walaupun lampu lalu lintas berwarna merah. Akhirnya kita ditangkap polisi. Terpaksa kita harus membayar tilang Rp 15.000,- (padahal harga sebuah helm hanya Rp 10.000,-). Ini adalah salah satu contoh sederhana kamma yang langsung berbuah.
b)Kamma yang memberikan hasil setelah lewat tujuh hari (Aparipakka Dittha dhamma vedaniya).
Contoh: Jika berbuat kebaikan atau kejahatan dalam usia muda, akan dipetik hasil dalam usia muda atau usia tua dalam kehidupan sekarang ini juga.
2.Upapajjavedaniya Kamma yaitu: Kamma yang menghasilkan akibat (vipaka) pada kehidupan berikutnya, yaitu satu kehidupan setelah kehidupan sekarang.
Misalnya orang yang melakukan meditasi hingga mencapai jhana tertentu, maka setelah meninggal ia akan langsung terlahir di Alam Brahma.
3.Aparapariyavedaniya Kamma yaitu: Kamma yang menghasilkan akibat (vipaka) pada kehidupan berikutnya secara berturut-turut.
Salah satu contoh adalah orang yang sering mendengarkan Dhamma, besar kemungkinan ia akan terlahir kembali di alam sorga dalam kehidupan-kehidupan yang berikutnya. Mengapa demikian? Dengan mendengarkan Dhamma, orang tersebut telah melakukan kamma baik karena ia telah melatih berdana perhatian. Selama mendengarkan Dhamma, ia juga telah memusatkan pikiran, ucapan serta perbuatannya ke arah kebajikan, apalagi jika ia dapat mengerti serta melaksanakan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari. Kebajikan ini tentunya sangat selaras dengan salah satu isi kotbah Sang Buddha yang menyatakan bahwa mendengarkan Dhamma pada saat yang sesuai adalah Berkah Utama.
4.Ahosi Kamma yaitu: Kamma yang tidak sempat berbuah karena telah kehabisan waktu atau kehilangan kesempatan untuk berbuah, karena:
a)Jangka waktu untuk memberikan hasilnya telah habis, atau
b) Kamma yang menghasilkan akibatnya telah habis, atau
c) Kamma tersebut telah menghasilkan akibatnya secara penuh.
Ahosi Kamma terbentuk ketika kekuatan suatu perbuatan (kamma)terhalangi oleh kekuatan perbuatan (kamma) lain yang sangat besar. Selain itu Ahosi Kamma terbentuk jika tidak adanya kondisi-kondisi pendukung yang dibutuhkan untuk kamma itu berbuah, sehingga kamma tersebut tidak menghasilkan akibat(vipaka).
Contoh: YA. Angulimala Thera, dulunya sebelum menjadi anggota Sangha, pernah menjadi penjahat dan telah membunuh 999 orang. Setelah Beliau bertemu dengan Sang Buddha, Beliau menyadari perbuatan keliru dan kemudian ditahbiskan menjadi Bhikkhu. Beliau melatih diri dengan jalan melaksanakan Vipassana Bhavana secara tekun, dan akhirnya Beliau mencapai kesucian tingkat Arahat.
Jadi, kejahatan Beliau yang telah membunuh ratusan orang itu menjadi Ahosi Kamma, karena sewaktu Beliau mencapai kesucian tingkat pertama, yaitu Sotapatti-magga, maka dengan kekuatan magga pertama itu, Beliau telah membasmi Kilesa (kekotoran batin) yang berat sehingga pintu alam Apaya tertutup dengan rapat. Ini berarti pula perbuatan membunuh ratusan orang itu menjadi Ahosi Kamma, yaitu Kamma yang tidak menimbulkan akibat sama-sekali.
Sering orang mengatakan bahwa tercapainya Nibbana (Bhs. Pali) atau Nirvana (Bhs. Sanskerta) adalah ketika kamma baik dan kamma buruknya telah habis. Padahal kamma itu sangat sulit untuk dapat habis berbuah karena jumlahnya yang tidak terbatas. Namun, kamma dapat dipotong. Kita dapat merasakan buah kamma apabila kita masih mempunyai badan dan batin, artinya kita masih hidup setelah dilahirkan. Apabila kita tidak dilahirkan kembali, maka kesempatan untuk merasakan buah kamma baik maupun buruk sudah tidak ada lagi. Dengan demikian, ada berbagai kamma yang tidak sempat berbuah.
II. EMPAT JENIS KAMMA BERDASARKAN FUNGSINYA
...
(Kiccacatukka)
1. Janaka Kamma (Fungsi kamma penghasil) yaitu Kamma yang menyebabkan timbulnya syarat untuk terlahirnya kembali suatu makhluk didalam 31 alam kehidupan (bhumi 31). Kamma ini menimbulkan Batin (Nama) dan Jasmani (Rupa).
Contoh: - Seseorang terlahir dilingkungan keluarga yang bahagia, serba berkecukupan dan memperoleh pendidikan yang baik, dan kebalikannya seseorang terlahir dilingkungan keluarga yang amburadul, serba kekurangan/miskin dan tidak pernah mengenyam pendidikan yang layak.
2. Upatthambhaka Kamma (Fungsi kamma pendukung)yaitu kekuatan yang mendorong terpeliharanya suatu akibat dari pada sebab (kamma) yang telah timbul. Kamma ini mendukung fungsi kamma yang melahirkan (Janaka Kamma), yaitu :
a) Membantu Janaka Kamma yang belum waktunya untuk menimbulkan hasil, memberikan waktu menimbulkan hasil /akibat.
b) Membantu Janaka Kamma yang sedang mempunyai waktu menimbulkan hasil memberikan kekuatan untuk menimbulkan hasil secara sempurna.
c) Membantu Nama-Rupa (Batin-jasmani) yang dilahirkan Janaka Kamma menjadi maju dan bertahan lama.
- Contoh 1.:- Selain ia terlahir di keluarga yang miskin, dia juga terlahir dalam keadaan cacat. Inilah salah satu contoh kamma yang mendukung.
- Contoh 2.: - Umur seseorang yang semestinya ditetapkan oleh Janaka Kamma hanya hidup selama 60 tahun dibumi ini, tetapi didalam kehidupannya sehari-hari ia banyak melakukan perbuatan baik, suka menolong makhluk lain, berdana, melaksanakan sila dan selalu waspada dalam semua tindakan pikiran, ucapan dan perbuatan jasmaninya sehingga umur yang ditetapkan oleh Janaka Kamma selama 60 tahun tersebut bertambah 20 tahun lagi.
3. Upapilaka Kamma (Fungsi kamma pelemah) yaitu Kamma yang menekan, mengolah, menyelaraskan satu akibat dari satu sebab. Fungsi kamma pelemah ini berhubungan dengan perbuatan baik maupun buruk yang dilakukan dalam kehidupan saat ini. Kamma ini adalah menekan Janaka Kamma, yaitu :
a) Upapilaka Kamma yang menekan Janaka Kamma supaya tidak ada waktu menimbulkan hasil.
b) Upapilaka Kamma yang menekan Janaka Kamma yang mempunyai waktu menimbulkan hasil supaya mempunyai kekuatan menurun.
c) Upapilaka Kamma yang menekan Nama-Rupa (Batin-jasmani) yang dilahirkan Janaka Kamma.
- Contoh 1.:- Meskipun seseorang terlahir sebagai orang yang miskin serta cacat, orang tersebut mungkin saja mempunyai perilaku kemoralan yang baik.
- Contoh 2.:- Budi seorang narapidana yang divonis 10 tahun hukuman penjara, namun dalam kesehariannya, ia sering menunjukan tabiat yang baik, rajin bekerja, maka Budi mendapatkan keringanan hukuman menjadi 7 tahun saja.
4. Upaghataka Kamma (Fungsi kamma penghancur) yaitu fungsi kamma yang menghancurkan atau memotong kekuatan akibat dari satu sebab yang telah terjadi dan sebaliknya menyuburkan berkembangnya kamma baru.
Jadi upaghataka-kamma adalah kamma yang memotong kamma maupun hasil dari kamma lainnya secara menyeluruh.
Pemotongan dari upaghataka-kamma ada 2 macam:
a) Memotong janaka-kamma supaya tidak ada waktu untuk menimbulkan hasil/akibat untuk selamanya.(Kammantara-Upaghataka).
b) Memotong nama-rupa yang dilahirkan oleh janaka-kamma sampai rusak (Kamma nibbata-khandha-santana-upaghataka).
- Contoh 1.: -Walaupun orang itu cacat tubuhnya, Karena perilaku kemoralannya baik, ucapannya serta tingkah lakunya juga baik, maka mungkin saja ada orang yang simpati kepadanya. Orang tersebut mungkin akan memberinya pekerjaan yang sesuai dengan keadaannya. Inilah salah satu contoh kamma yang memotong, artinya bertentangan atau memotong buah kamma yang sedang berlangsung atau buah kamma yang sedang dialaminya.
- Contoh 2.: - Misalnya: “A” adalah seorang pemain bulutangkis. Ia sering menjadi juara dalam beberapa pertandingan dan bulutangkis adalah karirnya. Suatu hari, saat “A” mengendarai mobil, tiba-tiba ia menabrak truk yang ada didepannya. Akibatnya, tangan kanannya patah dan cacat seumur hidup sehingga karirnya menjadi hancur.
Kamma sangat berhubungan dengan perbuatan seseorang saat ini. Segala sesuatu yang dilakukan pada saat ini akan menentukan buah kamma di masa depan. Dengan demikian, kamma bukanlah nasib yang tidak bisa diubah. Kamma masih dapat diperbaiki dan diubah dengan melakukan berbagai kamma atau perbuatan yang lain. Jadi, perbuatan saat inilah yang paling penting!
III. EMPAT JENIS KAMMA BERDASARKAN SIFAT HASILNYA
...
(Pakadanapariyayaca tukka).
1. Garuka Kamma yaitu Kamma Berat, yang memiliki kualitas kekuatan yang besar yang mampu menimbulkan hasil dalam waktu satu kehidupan atau kehidupan kedua, dan kekuatan kamma lain tidak mampu mencegahnya. Garuka Kamma terdiri dari 2 jenis yaitu:
a) Akusala Garuka Kamma adalah Perbuatan Buruk/Jahat yang berat. Yang disebut Akusala Garuka Kamma (Perbuatan jahat yang berat) adalah Niyata miccha ditthi-Kamma (Perbuatan pandangan salah yang pasti) dan Pancanantariya-Kamma (Lima perbuatan durhaka, yaitu membunuh ibu, membunuh ayah, membunuh Arahat, melukai seorang Buddha dan memecah-belah Sangha). Apabila seseorang melakukan salah satu atau lebih dari kelima perbuatan buruk tersebut, maka setelah meninggal dunia, orang tersebut langsung terlahir di Alam Neraka Avici. (Alam yang menyedihkan, yaitu alam neraka, alam setan, alam binatang dan alam asura). Akusala Garuka Kamma juga disebut dengan Anantariya Kamma karena dampaknya masih dapat di rasakan dikehidupan selanjutnya. Hal ini dijelaskan oleh Guru Buddha dalam Parikuppa Sutta; Anguttara Nikaya 5.129.
- Contoh: Devadatta yang telah melukai kaki Guru Buddha dan memecah-belah Sangha, dilahirkan kembali di alam neraka avici. Dan Raja Ajatasattu yang telah membunuh ayahnya (Raja Bimbisara) tidak dapat meraih kesucian Sotapana (tingkat kesucian pertama) karena kekuatan besar dari Akusala Garuka Kamma.
b) Kusala Garuka Kamma adalah Perbuatan Baik yang berat. Yang disebut Kusala Garuka Kamma adalah hasil dari melaksanakan Samatha-Bhavana (meditasi ketenangan batin) sehingga mencapai Rupa-Jhana 4 dan Arupa-Jhana 4 atau disebut Jhana 8, akibatnyapun lebih cepat daripada tingkatan batin yang lainnya. Akibat dari melakukan Kusala Garuka Kamma adalah tumimbal-lahir di alam Brahma.
Kamma jenis ini juga bisa terjadi untuk mereka yang telah melatih meditasi pengembangan kesadaran sehingga mencapai kebijaksanaan atau mencapai Nibbana. Dengan tercapainya Nibbana, maka ia sudah tidak akan terlahir kembali di alam manapun juga setelah ia meninggal di kehidupan ini.
Akusala Garuka Kamma, bila tidak ada waktu menimbulkan hasil, tetapi mempunyai kesempatan untuk menjadi Upatthambhaka Kamma (Kamma penunjang). Sebaliknya, Kusala Garuka Kamma , bila tidak ada waktu menimbulkan hasil, akan menjadi Ahosi Kamma dan tidak mempunyai kesempatan untuk menjadi Upatthambhaka Kamma (Kamma penunjang).
2. Asanna Kamma(Kamma yang berkesan yang muncul pada saat kematian) Pada saat seseorang akan meninggal dunia, maka pikirannya akan mengingat perbuatan kusala kamma (perbuatan baik) dan akusala kamma (perbuatan buruk/jahat) yang dilakukannya.
Apabila tidak ada perbuatan berat (kamma berat) yang pernah dilakukan selama hidupnya, maka pikirannya akan mengingat salah satu perbuatan yang paling berkesan dalam hidupnya.
Kamma inilah yang akan menentukan keadaan kelahiran seseorang yang akan datang jika tidak ada kekuatan kamma lain yang lebih besar lagi yang menentukan.
- Misalnya:- Ia teringat kesan baik ketika ia mendengarkan Dhamma atau sering bertemu dengan para bhikkhu. Apabila ia meninggal pada saat mengingat kesan baik tersebut, ia akan terlahir di alam bahagia. Sebaliknya kalau ia teringat kesan perbuatan yang tidak baik, maka ia dapat saja terlahir di alam menderita.
- Contoh :- Seorang algojo pada saat menjelang ajalnya, ia mengingat pernah memberi sedekah kepada Y.A. Sariputta. Dengan mengingat hal ini ia terlahir di alam yang bahagia. Namun, meskipun terlahir di alam bahagia, ia tetap memperoleh dampak buruk dari apa perbuatan buruk yang pernah ia lakukan.
Ini pula sebabnya seseorang yang akan meninggal dunia dilakukan upacara pembacaan Paritta. Salah satu tujuan upacara ritual ini adalah untuk membantu orang yang akan meninggal tersebut mengingat berbagai kesan kebajikan yang telah dilakukannya selama hidup. Dengan demikian, ia akan mempunyai kondisi untuk terlahir di alam bahagia.
3. Acinna Kamma atau Bahula Kamma adalah merupakan kamma yang secara terus menerus dilakukan dan diingat seseorang serta padanya ia mempunyai kemelekatan yang kuat (Kamma Kebiasaan), yaitu perbuatan baik dan jahat yang merupakan kebiasaan bagi seseorang karena sering dilakukan.
Kalau di dalam proses kematian itu tidak ada perbuatan yang berkesan atau tidak sempat berpikir, misalnya karena ia meninggal dalam keadaan koma atau kecelakaan fatal, maka hal yang menentukan kelahiran kembalinya adalah perbuatan yang menjadi kebiasaan dalam hidupnya.
Misalnya, orang yang mempunyai kebiasaan bermain musik, apabila pada saat meninggal dunia ia teringat dengan kebiasaannya itu, maka ia dapat saja terlahir kembali sebagai orang yang memiliki bakat bermain musik sejak kecil.
- Contoh:- Cunda seorang penjagal babi, yang hidup disekitar vihara tempat Guru Buddha berdiam, ia meninggal dengan mendengking seperti babi karena kebiasaannya memotong babi.
4. Kattata Kamma adalah Kamma yang tidak terlalu berat dirasakan akibatnya. Kamma ini yang paling lemah di antara semua kamma. Kamma ini merupakan perbuatan baik (kusala kamma) dan perbuatan jahat (akusala kamma) yang pernah dibuat dalam kehidupan lampau dan kehidupan sekarang ini yang hampir tidak didorong oleh kehendak. Kamma ini berproses apabila ketiga kamma diatas tidak pernah dilakukan.
- Misalnya:- Pada satu saat, seseorang pernah melihat dan menyingkirkan paku agar tidak ada orang lain yang terluka karenanya, apabila kamma sederhana yang membahagiakan ini timbul di saat kematian, ia dapat pula terlahir di alam bahagia.
65. Dari keterangan di atas, dapatlah dimengerti bahwa kamma walaupun hanya Satu, namun dari berbagai sudut pandang, kamma dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu menurut waktu, fungsi dan sifatnya. Setiap kelompok terdiri dari empat bagian. Dengan demikian, secara keseluruhan, Satu kamma yang dimiliki oleh seseorang dapat dimengerti sebagai 12 jenis kamma yang saling berkaitan menjadi satu kesatuan.
Seorang umat Buddha yang yakin sepenuhnya pada hukum Kamma, tidak berdoa pada pihak lain untuk diselamatkan tetapi dengan yakin bergantung pada diri sendiri untuk kebebasannya. Daripada membuat berbagai penyerahan, atau menyetujui berbagai perantara istimewa, ia akan bergantung pada kekuatan kemauannya dan bekerja tiada hentinya demi kesejahteraan dan kebahagiaan semua.
(Ven. Narada Mahathera)
Langganan:
Postingan (Atom)

